His Last Vow – Part 2

“Selamat siang, Soohyun-shii” sapa Kyuhyun pada sekretaris Changmin, Lee Soohyun. Memang Changmin memiliki dua orang sekretaris. Soohyun adalah sekretaris yang bertugas mengerjakan hal-hal simpel seperti mengetik surat, menelepon klien dan sebagainya sementara Junsu sudah seperti asisten pribadi Changmin yang mengatur jadwal juga pekerjaan bossnya itu, dulunya Junsu mengerjakan semua sendirian tetapi karena semakin hari pekerjaannya semakin menumpuk akhirnya pria berwajah imut itu meminta Changmin mencarikan seorang sekretaris lagi yang bisa meringankan tugasnya.

Soohyun terlihat bingung melihat kehadiran Kyuhyun di depannya. Memang selama setahun keduanya menikah Kyuhyun hanya pernah datang sekali ke kantor Changmin, itupun karena Changmin meninggalkan bahan presentasinya di rumah dan Kyuhyun datang untuk mengantarkannya.

“Kyuhyun-shii? Tumben anda kemari” sapa Soohyun sambil tak lupa memasang senyum, bagaimanapun juga sosok pria manis di depannya itu adalah istri dari bossnya, kalau ia mau bertahan lama di kantor itu ia harus bersikap sopan.

“Yah…aku ingin mengantarkan sesuatu untuk Changmin. Apa ia ada di dalam?” tanya Kyuhyun sambil menunjuk pintu yang ada di samping meja Soohyun.

Soohyun mengangguk “Tapi sajangnim sedang ada tamu” lanjutnya.

“Tamu penting?”

Soohyun memasang ekspresi bingung sebelum menjawab “Saya kurang tau, tetapi wanita bernama Victoria itu bilang kalau ia diundang datang oleh sajangnim”

Mata bulat Kyuhyun membelalak mendengar nama itu disebut. Victoria? Buat apa wanita itu datang ke kantor Changmin? Terlebih lagi Changmin mengundangnya? Berarti Changmin tau kalau wanita itu telah kembali ke Seoul?

‘Jadi mereka masih berhubungan?’

“Oh. Hanya Victoria, kalau begitu aku masuk sekarang saja. Terima kasih infonya” ucap Kyuhyun sambil bergerak untuk membuka pintu ruangan Changmin. Pintu itu baru terbuka sedikit dan Kyuhyun sedikit mengintip kedalam untuk melihat keadaan. Pilihan yang salah karena ia justru melihat Changmin dan Victoria sedang berciuman dengan Changmin yang sedang duduk di kursinya dan Victoria yang berdiri di samping Changmin.

Bibir Kyuhyun bergetar, ia hampir masuk ke dalam ruangan itu dan melabrak Victoria tetapi tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Aku akan menceraikannya”

Jantung Kyuhyun seakan berhenti berdetak. Perih. Dadanya terasa perih dan sesak. Changmin mengatakan kalimat itu begitu tautan bibir keduanya terlepas. Jadi inikah pilihan Changmin? Ia memilih untuk menceraikan Kyuhyun dan kembali kepada Victoria?

Tubuh Kyuhyun melemas. Dengan segera ia tutup kembali pintu ruang kerja Changmin itu dan berlari dari sana. Menghiraukan panggilan Soohyun dan juga tatapan bingung dari orang-orang yang ada disana karena melihatnya berlari sambil menangis.

‘Sakit. Mengapa sesakit ini rasanya mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut Changmin padahal aku tau aku tak akan bisa mendapatkan cintanya’

.

.

.

.

.

Title : His Last Vow

Pairing : ChangKyu (Changmin x Kyuhyun)

Rating : T

Genre : Romance, Drama, Hurt

Word Counts : 7.982 (it’s almost 8000 words. I hope u’ll not get bored)

Part 2 from 2

Disclaimer : SM own them, I can only disclaim the plot and story. No plagiarism allowed.

Warning : As per usual, this story contain a male x male relationship and I’m using Kyuhyun and Changmin only to convey my wild imagination as a fangirl and fujoshi. Please do not bash the character from this story. If you’re homophobic and hating the idea of Changmin and Kyuhyun together just DON’T READ ANY FURTHER.

p.s : a repost from my acc in fanfiction.net

.

.

.

.

Changmin menatap gusar jarum jam tangannya yang saat ini sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam dan itu artinya sudah 60 jam Kyuhyun menghilang dan tak mengabarinya. Changmin sudah menelepon polisi begitu Kyuhyun tak juga kembali pulang setelah 48 jam, melaporkan kalau istrinya tersebut hilang. Changmin tak ingat Kyuhyun pernah memberitahukan kalau ia akan pergi selama ini, jangan anggap Changmin tak mendengarkan setiap Kyuhyun melaporkan kegiatannya selama satu hari setiap sebelum pria tinggi itu pergi bekerja karena Changmin mencatat jadwal Kyuhyun itu dalam memorinya.

Ia sudah mencoba menghubungi ponsel Kyuhyun tetapi nomor yang ia tuju tak pernah aktif, begitupun dengan Eunhyuk, manajer Kyuhyun. Changmin tak berani menanyakan kepada keluarga Kyuhyun karena pasti mereka akan panik begitu tau anak lelaki kesayangan mereka menghilang dan ia sendiripun pasti akan kena amukan kedua orang tuanya karena membiarkan Kyuhyun menghilang dan tak becus menjaga istri sendiri.

Changmin sudah akan kembali menelepon polisi untuk menanyakan kelanjutan pencarian terhadap Kyuhyun saat tiba-tiba ia mendengar suara pintu depan apartemennya dan Kyuhyun terbuka. Sedikit berlari Changmin berjalan kearah pintu dan tubuhnya kaku saat mendapati sosok yang paling dicarinya dua hari ini sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah koper dan tas ransel besar.

“Changmin? Kau belum tidur?” tanya Kyuhyun begitu ia berbalik dan mendapati Changmin sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan berkacak pinggang.

“Aku tak bisa tidur selama hampir 60 jam. Kau kemana saja tak menghubungiku?” tanya Changmin, Kyuhyun menyadari dari nada suara Changmin kalau pria itu sedang memarahinya.

Sadar atas kesalahannya yang tak menghubungi Changmin, Kyuhyun pun menjelaskan alasannya pergi selama dua hari.

Eunhyuk tiba-tiba saja meneleponnya dan memberitahukan kalau jadwal syuting video clip terbaru Kyuhyun yang diadakan di daerah sekitar gunung Halla di pulau Jeju dipercepat dan pria itu akan menjemputnya dalam tiga puluh menit. Kyuhyun yang saat itu baru bangun langsung bersiap-siap mempacking barang-barang keperluannya dan pergi begitu Eunhyuk menjemputnya. Kyuhyun pikir ia akan menghubungi Changmin setelah mereka sampai di Jeju tetapi sialnya bagi Kyuhyun ternyata begitu sampai di destinasi tempat syuting berada justru daerah itu tidak mendapat sinyal sama sekali. Memang tempat yang mereka pilih sangat jauh dari daerah wisata biasanya, butuh waktu dua jam dengan helikopter untuk mencapai tempat syuting tersebut, Kyuhyun dan kru lain bahkan harus menginap dengan tenda karena tak ada penginapan di daerah sekitar.

“Jadi begitu…” ucap Kyuhyun sambil meneliti wajah Changmin yang masih tampak menyeramkan. Ia benar-benar tak pernah melihat Changmin semarah ini sebelumnya dan jujur saja Kyuhyun sedikit takut pada Changmin yang sedang marah.

Selama beberapa detik keduanya masih terdiam di depan pintu. Changmin melipat kedua lengannya di dada sementara Kyuhyun hanya bisa menunduk takut.

“Jangan ulangi lagi”

Kyuhyun mendongakkan wajahnya untuk menatap Changmin. Pria itu jelas masih marah tetapi sepertinya ia sudah bisa memaafkan Kyuhyun.

“N-ne…”

“Masuklah, kau perlu istirahat” putus Changmin final sambil berjalan masuk ke dalam rumah mendahului Kyuhyun. Pria manis itupun menghela nafas lega. Untunglah Changmin mau memaafkannya.

.

.

.

.

Sudah 48 jam sejak Kyuhyun menghilang dan disinilah Changmin berada, berdiri di depan pintu berharap sosok itu akan muncul sesaat lagi seperti sebelumnya.

Pagi itu Changmin terbangun dari tidurnya dan mendapati sebuah surat cerai yang telah ditandatangani oleh Kyuhyun terlipat manis di meja yang ada di sisi tempat tidurnya, Changmin melompat dari atas tempat tidurnya dan berlari kearah kamar Kyuhyun, mendapati kamar itu kosong Changmin pun membuka satu persatu lemari pakaian Kyuhyun dan tak satupun pakaian milik pria manis itu ada disana. Kyuhyun telah mengkosongkan isi lemarinya, meninggalkan tuxedo yang ia pakai di upacara pernikahan mereka tergantung sendirian di dalam lemari.

Changmin panik. Ia segera menelepon Kyuhyun tetapi seperti yang sudah ia duga Kyuhyun tak menjawab teleponnya, begitu juga dengan Eunhyuk, satu-satunya teman Kyuhyun yang Changmin kenal. Sekarang Changmin merasa menyesal karena tak pernah mencoba mencari tahu soal teman-teman Kyuhyun. Ia tahu istrinya itu sudah terkenal sejak mereka SMA, pria itu punya banyak sekali teman pria maupun wanita, Victoria mantan kekasihnya juga salah satu sahabat Kyuhyun kala itu.

“Junsu…Kyuhyun pergi dari rumah” kata Changmin begitu Junsu menghubunginya, menanyakan ada apa gerangan bossnya itu belum tiba di kantor padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

“Dia minta cerai?” Junsu balik bertanya. Changmin berpikir bagaimana mungkin tebakan Junsu bisa sejitu itu?

“Ya”

Terdengar suara helaan nafas Junsu sebelum akhirnya asisten sekaligus teman baiknya itu berkata “Aku sudah lama menduga hal ini akan segera terjadi”

“Apa maksudmu?” jujur, Changmin sedikit bingung dengan pernyataan Junsu. Memang selama ini ia dan Kyuhyun sedikit-banyak-saling canggung satu sama lain, walaupun mereka telah menikah dan tinggal serumah Changmin memperlakukan Kyuhyun seperti seseorang yang hanya tinggal dengannya, bukan sebagai istrinya. Tetapi moment indah mereka semalam membuat Changmin yakin kalau selama ini ia justru sudah terjerat oleh kesabaran dan ketabahan Kyuhyun dalam menghadapi kelakuannya yang dingin, ia telah jatuh cinta pada pria manis yang menjadi istrinya itu. Lalu kenapa sekarang Kyuhyun malah meninggalkannya? Bukankah pria itu juga mencintainya? Mereka telah saling jatuh cinta, bukankah seharusnya kehidupan rumah tangga mereka membaik?

“Aku akan mencoba menghubungi Eunhyuk” lanjut Junsu tanpa menjawab pertanyaan Changmin sebelumnya.

“Percuma. Aku sudah menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif” potong Changmin.

“Kalau begitu aku akan menghubungi Ryeowook atau Donghae…kurasa mereka tau Kyuhyun dimana”

Dahi Changmin berkerut, ia tak pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya “Siapa mereka?”

“Astaga Shim Changmin suami macam apa kau ini? Kau bahkan tak kenal dengan Ryeowook dan Donghae? Ryeowook adalah teman Kyuhyun sejak kecil lalu Donghae adalah kekasih Eunhyuk sekaligus produser yang sering bekerjasama dengan Kyuhyun dalam setiap single dan albumnya. Kau benar-benar tak mengenal keduanya?” tanya Junsu tak percaya.

Changmin termenung. Ia benar-benar tak tau apapun tentang Kyuhyun. Single? Album? Changmin bahkan tak pernah mendengar Kyuhyun bernyanyi sebelumnya padahal istrinya itu adalah seorang soloist yang lumayan terkenal.

“Aku tutup teleponnya. Kau cepat datang ke kantor” putus Junsu sambil mematikan sambungan teleponnya dengan Changmin.

“Bahkan Junsu lebih mengenal Kyuhyun daripada diriku sendiri yang berstatus suaminya?”

Dengan langkah gontai Changmin berjalan masuk kembali ke dalam apartemen yang selama ini ia tinggali berdua dengan Kyuhyun. Mengapa tempat ini jadi terasa sangat sepi? Padahal selama ini pun ia dan Kyuhyun tak saling berhubungan di dalam rumah, Changmin sibuk dengan dunianya sendiri dan tak memperdulikan kehadiran Kyuhyun.

Changmin melirik dapur yang kosong. Biasanya Kyuhyun akan menyiapkan makanan untuknya dan meskipun terkadang Changmin tak memakan masakan yang sudah disiapkan Kyuhyun pria manis itu tetap tak pernah lupa memasak untuknya. Perlahan jemari Changmin menyentuh meja makan yang kosong itu, tak pernah sebelumnya Changmin melihat dapur ini terasa begitu kosong.

Pukul dua belas dini hari dan Changmin baru tiba di apartemennya, akhir tahun memang selalu membuat dirinya sibuk bukan main. Dengan cepat Changmin melepas sepatu dan overcoatnya. Tubuh tinggi itupun berjalan masuk ke dalam apartemen yang terlihat gelap, hanya lampu di ruang makan yang menyala. Penasaran, Changmin pun berjalan kearah dapur merangkap ruang makan itu dan pemandangan pertama yang ia temukan adalah Kyuhyun yang sedang tertidur. Pria manis itu duduk di kursi dengan melipat kedua lengannya di meja, menjadikan lengannya sendiri sebagai sandaran kepalanya. Di atas meja sudah tersaji makanan lengkap, nasi dan lauk yang sengaja ditutup dengan plastic wrapper oleh Kyuhyun. Changmin bisa melihat bagaimana piring makan Kyuhyun masih dalam posisi terbalik, itu artinya pria itu pun belum makan. Sepertinya Kyuhyun menunggu dirinya pulang untuk makan bersama namun akhirnya tertidur.

Changmin sendiri sebenarnya sudah makan malam di kantor tetapi melihat bagaimana Kyuhyun sudah menyiapkan semua ini untuknya Changmin toh tak tega juga. Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Kyuhyun Changmin menarik kursinya dan duduk disana, ia membuka satu persatu plastic wrapper yang membungkus mangkuk dan piring diatas meja dan mulai memakan satu per satu menu yang dimasakkan Kyuhyun untuknya. Dulu saat keduanya baru bertunangan orang tua Kyuhyun pernah berkata kalau Kyuhyun tidak pandai memasak tapi nyatanya setelah menikah Kyuhyun selalu memasak untuknya dan Changmin akui masakan Kyuhyun lumayan enak, sepertinya Kyuhyun ikut kursus memasak demi bisa memasak untuk Changmin.

Dalam waktu singkat semua makanan yang disiapkan Kyuhyun telah ludes, beruntung Changmin punya lambung yang besar untuk memuat semua makanan itu. Dengan gerakan hati-hati pria tinggi itupun bergerak untuk memasukkan seluruh piring kotor kedalam dishwasher.

“Terima kasih untuk makan malamnya” bisik Changmin sambil menyelimuti tubuh Kyuhyun yang masih tertidur dengan overcoatnya.

Changmin pun beranjak dari dapur kearah ruang tengah dimana Kyuhyun sering menungguinya pulang kantor sambil menonton drama. Changmin sedikit bingung dengan hobi Kyuhyun yang satu ini, pria itu sangat senang menonton drama dan terkadang ia bisa menangis karena terlalu menghayati film yang ditontonnya.

Changmin masih ingat ketika itu ia baru pulang dari kantor dan mendapati Kyuhyun sedang menangis sesunggukan di depan televisi, istirnya itu terlalu fokus dengan film yang ditontonnya dan tidak sadar kalau Changmin sudah berdiri di belakangnya.

“Hiks…Yeon Woo yah…kenapa hidupmu setragis ini…hiks…” ucap Kyuhyun di sela tangisnya. Changmin kembali tersenyum, Kyuhyun memang pria yang aneh namun justru tingkah laku Kyuhyun itu membuat suasana baru dalam hidup Changmin yang monotone. Selama ini Changmin hanya tak perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya dan bersikap apatis pada perhatian yang diberikan orang padanya. Junsu bahkan mengatainya sociopath karena kelakuannya yang nyaris antisosial. Kyuhyun sendiri adalah total opposite nya, pria itu selalu tersenyum, selalu tertawa, selalu ceria. Ia dan Kyuhyun bagaikan langit dan bumi, dimana Kyuhyun adalah langit yang cerah dan Changmin adalah dasar laut yang gelap. Keluarga Changmin pun sangat menyayangi Kyuhyun dan menganggap pria itu sebagai anak kandung mereka. Setiap kali mereka berdua datang ke rumah utama dimana ayah dan ibu Changmin tinggal Kyuhyun pasti akan disambut dengan meriah seakan-akan ia adalah anak kandung keluarga Shim dan bukannya seorang menantu. Ibu Changmin bahkan menyiapkan semua makanan kesukaan Kyuhyun saat mereka berkunjung untuk mengucapkan salam tahun baru. Perlakuan mereka pada Kyuhyun benar-benar berbeda dengan perlakuan mereka pada Changmin, Changmin sampai berpikir mungkin Kyuhyunlah anak kandung kedua orang tuanya dan bukan dirinya. Tidak, Changmin tidak cemburu. Ia justru senang melihat bagaimana keluarganya memperlakukan Kyuhyun dengan baik, paling tidak Kyuhyun mendapatkan perlakuan yang pantas dari keluarga Changmin karena Changmin sendiri tak bisa memperlakukan Kyuhyun sebaik itu.

Langkah Changmin terhenti tepat di depan pintu kamar utama yang selama ini menjadi kamar pribadi Kyuhyun. Selama ia dan Kyuhyun tinggal berdua hanya dua kali Changmin masuk ke dalam kamar itu, saat malam pengantin mereka dan pagi dua hari yang lalu dimana Kyuhyun pergi dari rumah.

Kamar itu jauh lebih luas daripada kamar tamu yang ditinggali Changmin dan juga lebih terasa hangat. Bukan, bukan karena penghangat ruangan yang lebih baik tetapi karena Kyuhyun-lah yang memakai kamar itu. Semua yang ada pada Kyuhyun membuat Changmin merasa hangat dan ini bukanlah kali pertama ia merasakan hal tersebut. Jauh sebelum ia menyadari perasaannya pada Kyuhyun pun Changmin selalu merasa hangat saat bersama Kyuhyun, dadanya menghangat saat melihat Kyuhyun untuk pertama kalinya saat mereka dijodohkan.

Kamar itu sangat rapi, perabotan yang ada di dalamnya pun tidak banyak, hanya sebuah tempat tidur, sofa dan dua buah meja kecil di sisi tempat tidur. Di dinding sebelah kanan terdapat lemari kaca yang berisi baju-baju milik Kyuhyun walaupun sekarang lemari itu telah kosong.

Changmin mendudukkan dirinya diatas tempat tidur milik Kyuhyun, pandangannya menerawang. Kamar ini wangi Kyuhyun, campuran vanilla dan apel yang sebenarnya sangat kontras namun justru sangat enak untuk dihirup, manis dan menyegarkan seperti Kyuhyun.

“Kyu…kau dimana? Pulanglah…aku merindukanmu” Changmin menutup matanya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Kyuhyun. Dua hari ia tak tidur, berada di kamar Kyuhyun membuatnya nyaman dan tak butuh waktu lama sampai Changmin benar-benar tertidur disana.

.

.

.

.

Months after…

Sudah enam bulan sejak Kyuhyun pergi dari rumah. Keluarga Changmin dan Kyuhyun sudah mengetahui soal permohonan cerai Kyuhyun dan seperti yang Changmin duga keluarganya marah besar. Ibunya bahkan sampai menangis saat mendengar kabar tersebut.

“Apa yang telah kau lakukan, Minnie?! Kenapa Kyuhyunku sampai pergi seperti ini?” tangis nyonya Shim saat Changmin datang seorang diri ke rumah utama. Keluarga Kyuhyun yang berada di Amerika juga sangat kaget dan marah saat mendengar kabar tersebut. Mereka segera mengerahkan orang-orang kepercayaan keluarga untuk mencari Kyuhyun namun sampai saat ini belum ada kemajuan yang berarti, Kyuhyun seperti hilang di telan bumi. Changmin sendiri juga belum berhenti mencari Kyuhyun. Setiap hari sepulang dari kantor Changmin akan berkeliling Seoul ditemani oleh Junsu. Terkadang ia bahkan pergi sendirian ke daerah-daerah yang ada di Korea Selatan namun tetap saja ia tak menemukan Kyuhyun.

“Changmin…kau mau kan datang ke fashion show ku nanti malam?” tanya Victoria siang itu saat wanita tersebut datang berkunjung ke kantor Changmin. Changmin mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di mejanya untuk menatap Victoria sekilas. Selama enam bulan belakangan ini memang Victoria semakin getol mendekatinya, Changmin sadar akan hal itu namun ia tak menanggapi Victoria dengan serius. Pikirannya penuh dengan Kyuhyun, ia bahkan sering tidak konsen saat bekerja, mana mungkin ia sempat memikirkan Victoria lagi.

“Aku sibuk, Vict” jawab Changmin singkat lalu kembali sibuk dengan laptopnya.

“Sebentar saja. Aku mohon” ucap Victoria memelas.

‘Aku mohon’

Changmin paling lemah dengan kata-kata itu.

Pria tinggi itu menghela nafasnya pelan lalu menjawab “Baiklah”

.

.

.

.

“Ceraikan Kyuhyun dan kembalilah padaku”

Changmin menengadahkan kepalanya untuk melihat Victoria dan hal ini dimanfaatkan wanita itu untuk mencium bibir Changmin. Changmin sendiri terlalu kaget dengan Victoria yang tiba-tiba menciumnya hanya bisa diam di kursinya. Merasa kalau Changmin tak membalas ciumannya Victoria pun menjauhkan wajahnya dari Changmin, menatap bingung kearah mantan kekasihnya itu.

“Aku akan menceraikannya,” ucap Changmin begitu tautan bibir mereka terlepas. Victoria hampir melompat kegirangan mendengar kata-kata itu namun ternyata Changmin belum selesai dengan kalimatnya karena kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Changmin justru membuat Victoria ingin mengubur Kyuhyun saat itu juga.

“…saat ajal menjemputku”

Mata Victoria membulat marah “Apa maksudmu?”

“Aku sudah bersumpah saat menikah dengannya kalau aku akan bersamanya baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan kami” jawab Changmin. Pria itu berdiri dari duduknya, membuat Victoria harus bergerak mundur.

“Ta-tapi kau tidak mencintainya! Kau menikahinya karena kewajibanmu sebagai putra tunggal keluarga Shim” elak Victoria masih tak terima dengan alasan Changmin.

“Kau lihat cincin ini kan?” tanya Changmin sambil menunjukkan cincin di jari manis tangan kanannya.

“Ini adalah pengikatku dengan Kyuhyun dan aku tak akan menodai pernikahan kami dengan perselingkuhan apalagi dengan perceraian, selagi cincin ini masih melingkar di jari manisku aku akan setia padanya”

Victoria terdiam. Ini tidak seperti rencananya. Ia tak menyangka Changmin akan menolaknya seperti ini.

“Aku tak terima alasanmu itu!” Victoria hampir menjerit, wanita itu berjalan menuju pintu sambil menghentak-hentakkan heelsnya di lantai, tanda kalau ia sedang marah.

Saat pintu sudah terbuka dan Victoria hampir keluar dari ruangan pribadi milik Changmin tiba-tiba pria itu menambahi.

“Aku mencintainya…aku mencintai Shim Kyuhyun”

.

.

.

.

 

“Aku bisa melihat pangeran berkuda putihmu di barisan paling depan. Sepertinya sudah ada kemajuan dalam hubungan kalian” kata seorang pria berwajah kaukasian yang saat ini sedang memoles wajah Victoria dengan berbagai macam kosmetik. Mendengar itu Victoria sedikit tersenyum.

“Aku tau kelemahannya, Pierre” jawab Victoria penuh percaya diri. Setelah selesai dengan last touch upnya Victoria pun berjalan kearah para model yang sudah mengantri untuk maju keatas panggung. Ia tak sabar untuk menunjukkan pesonanya diatas sana, terlebih lagi kali ini Changmin datang untuk menontonnya.

Victoria tak tau alasan Kyuhyun yang tiba-tiba meninggalkan Changmin, awalnya ia merasa beruntung, dengan begitu rencananya untuk memiliki Changmin akan lebih mudah terlaksana tetapi setelah enam bulan usahanya tak membuahkan hasil yang berarti. Changmin tetap menanggapinya dingin, pria itu bahkan selalu menolak ajakan dinnernya tapi kali ini akhirnya ia berhasil, seharusnya ia memohon saja pada Changmin sejak dulu agar pria itu lebih mudah luluh. Wanita itu tau kalau Changmin paling tak bisa menolak permohonan orang lain terutama wanita, itu juga alasannya ia tak pernah menolak gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya dulu.

“Baik, dalam hitungan ketiga naik satu per satu. One, two…three!

Model-model yang berjejer di belakang panggung pun naik satu persatu begitu aba-aba di berikan. Victoria berada di urutan ke delapan dan ia tak sabar untuk segera maju. Begitu gilirannya sampai dengan penuh percaya diri Victoria pun melenggang diatas panggung, matanya mencari-cari sosok Changmin dan menemukan pria itu tengah menerima telepon. Dahi Victoria sedikit berkerut dan senyumnya memudar saat Changmin tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan venue. Langkah Victoria mendadak berhenti. Wanita itu terdiam di tempatnya, membuat para penonton bingung dengan model yang tiba-tiba berhenti berjalan diatas panggung. Victoria bisa mendengar suara Pierre di balik panggung yang menyuruhnya untuk segera berjalan namun Victoria terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesaat sebelum berdiri ia sempat melihat bibir Changmin seperti menyebutkan nama ‘Kyuhyun’ dan pria itu langsung pergi begitu saja.

Victoria sadar, ia telah kalah.

.

.

.

.

Nafas Changmin berderu, ia berlari lumayan jauh dari tempat parkir menuju pintu keberangkatan bandara Incheon. Saat menghadiri acara fashion show Victoria tiba-tiba saja Changmin mendapat telepon dari salah seorang kepercayaan keluarga Kyuhyun, pria itu memberitahukan kalau mereka baru saja melihat seseorang yang diduga Kyuhyun di Beijing. Mendengar itu buru-buru Changmin menelepon Junsu dan meminta pria itu menyiapkan keberangkatannya ke Beijing malam itu juga. Ia bahkan meninggalkan fashion show Victoria begitu saja saat mendengar nama Kyuhyun disebut.

Ponsel Changmin berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Buru-buru Changmin membuka pesannya, berharap itu dari orang yang mengatakan kalau Kyuhyun telah ditemukan tapi ternyata pesan itu berasal dari Victoria.

“Besok aku akan kembali ke New York”

Singkat namun Changmin mengerti apa maksudnya. Wanita itu telah menyerah. Ternyata ia hanya sanggup menghadapi tingkah dingin Changmin selama enam bulan, padahal Kyuhyun bertahan dengannya selama setahun.

Changmin tak berniat membalas pesan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku overcoat berwarna navy yang tengah ia kenakan. Matanya mencari-cari sosok Junsu saat akhirnya ia menemukan sahabatnya itu tengah berdiri di dekat counter check-in.

“Junsu!” panggil Changmin sambil melambaikan tangannya. Ia pun segera menghampiri Junsu.

“Kau yakin akan berangkat malam ini juga?” tanya Junsu sambil menyerahkan passport dan tiket untuk Changmin.

Changmin mengangguk mantap, iapun menyerahkan passport dan tiketnya kepada penjaga counter.

“Bagaimana kalau ternyata itu bukanlah Kyuhyun?” tanya Junsu lagi.

“Maka aku akan mencarinya lagi” jawab Changmin mantap.

.

.

.

.

A year after…

Sudah setahun sejak Kyuhyun pergi meninggalkan Changmin. Pria itu sudah mencari hingga ke China dan Jepang tapi ia tak juga menemukan keberadaan Kyuhyun. Terakhir kali ada kabar soal keberadaan Kyuhyun di Beijing ternyata itu bukanlah Kyuhyun melainkan pria China yang mirip dengan Kyuhyun, pria itu bernama Gui Xian dan ia bahkan tak bisa berbahasa Korea. Changmin sudah hampir putus asa dan ia sedikit depresi karenanya. Sudah seminggu ia tak masuk kantor, yang ia lakukan hanyalah berkeliling kota Seoul dengan mobil dari pagi hingga tengah malam, tak ada tujuan. Padahal ia tau Kyuhyun tak lagi berada di Seoul, pria itu bahkan tak lagi berada di Korea Selatan tetapi Changmin masih menyimpan harapan, harapan kalau keajaiban itu benar-benar ada.

“Changmin-ah…mau sampai kapan kau hidup seperti ini? Sudah seminggu kau tak masuk kantor” Junsu tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang lain dari biasanya itu. Changmin bukanlah orang yang akan melalaikan pekerjaannya tapi ia bahkan membolos dari kantor sampai seminggu.

“Sampai aku menemukan Kyuhyun” jawab Changmin singkat lalu menutup pintu kamar utama. Sejak kepergian Kyuhyun, Changmin memutuskan untuk pindah ke kamar utama dimana dulu Kyuhyun tidur.

Junsu menghela nafasnya. Tak ada gunanya menceramahi Changmin saat ia dalam keadaan seperti ini. Sejujurnya Junsu merasa miris dengan keadaan Changmin saat ini. Pria itu semakin kurus dan tak terawat. Rambut Changmin yang biasanya pendek dan rapi sudah memanjang hingga setengkuk, begitupun dengan facial hair yang mulai tumbuh di sekitar dagu dan pipinya, bukti kalau ia sudah lama tak bercukur. Dalam hati Junsu sedikit mengutuk Kyuhyun yang sudah merusak hidup Changmin tapi lagi-lagi ia hanya bisa mendukung sahabatnya itu sampai Kyuhyun ditemukan.

Junsu berjalan kearah dapur, memasukkan isi kantung belanjaan yang ia bawa kedalam kulkas Changmin yang telah kosong. Sejak kepergian Kyuhyun, pekerjaan Junsu bertambah. Ia sekarang jadi harus mengurus Changmin dan rumahnya, merapikan rumah, mencuci piring dan baju serta mengisi lemari dan kulkas dengan makanan.

“Aish…bagaimana aku bisa punya pacar kalau hidupku hanya disibukkan dengan mengurusi bayi besar sepertimu” omel Junsu sambil mencuci piring kotor yang sudah menumpuk.

.

.

.

.

Changmin benar-benar takjub dengan impulsnya begitu mendengar kabar soal Kyuhyun. Pagi itu ia bangun pagi seperti biasanya dan memutuskan untuk kembali bolos dari kantor dan mengelilingi Seoul seperti kebiasaannya belakangan ini saat tiba-tiba saja ia mendapat kabar soal keberadaan Kyuhyun di Praha, Ceko. Dengan cepat ia langsung menyuruh Junsu untuk mengurus keberangkatannya dan disinilah ia saat ini, Vaclav Havel Airport, Praha. Changmin melirik sekitarnya, mencari-cari orang yang seharusnya menjemputnya sore itu tapi tak ada satupun orang disana yang menyapanya duluan. Changmin sempat berpikir untuk menelefon dan memberikan kabar kepada orang yang akan menjemputnya tetapi sial bagi Changmin karena ia baru menyadari kalau baterai ponselnya habis dan ia tidak mempunyai Koruna sepeserpun untuk menggunakan telefon umum, alhasil disinilah Changmin berdiri, diantara kerumunan orang yang lalu lalang sejak sejam yang lalu.

“Aish…sampai kapan aku harus berdiri disini? Apa sebaiknya aku naik taxi saja? Tapi aku harus menukar uangku dulu…” Changmin masih sibuk berpikir saat tiba-tiba ada dua orang lelaki kaukasian yang menyapanya. Kedua orang itu berbicara dengan bahasa Inggris.

“Apa kau dari Korea?” tanya pria A yang berbaju putih dengan jaket kulit hitam.

Changmin mengangguk “Kau orang yang akan menjemputku disini?” tanyanya.

Pria A tersenyum lalu berkata”Akhirnya kita bertemu! Sudah sejam kami menunggumu disini” ucapnya lalu mengajak Changmin pergi menaiki salah satu taxi yang sebelumnya telah dipanggil oleh pria satunya lagi yang menggunakan jersey merah dan snapback berwarna senada. Changmin sendiri tak merasa curiga dengan tingkah kedua orang pria yang terlihat ramah itu dan mengikut saja dengan mereka.

“Kemana kita akan pergi? Dimana Kyuhyun?” tanya Changmin saat mereka berada di dalam taxi.

“Kita akan check in ke hostel dulu, jaraknya dekat dari Old Town Square, hanya 15 menit berjalan kaki” ucap si pria B “Oh ya, kenalkan namaku Bovra dan ini temanku Viktor” lanjutnya memperkenalkan dirinya dan temannya.

“Aku Changmin. Kalian sudah tau kan?” Bovra dan Viktor hanya mengangguk-angguk. Changmin pun memilih untuk melihat kearah jendela, menikmati pemandangan kota Praha di senja hari. Memang saat ini jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan di luar sudah lumayan gelap. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit akhirnya taxi pun berhenti di depan sebuah bangunan townhouse berarsitektur khas Eropa. Changmin turun dari taxi dengan Viktor sementara Bovra membayar ongkos taxi mereka.

“Ini hostelnya?” tanya Changmin. Kedua pria disampingnya mengangguk. Tak buruk, pikir Changmin sambil meneliti bangunan townhouse di depannya itu, memang terlihat sedikit kecil tetapi Changmin mengingatkan dirinya kalau ia berada di Praha saat ini bukanlah untuk berlibur melainkan untuk mencari Kyuhyun, ia tak perduli kalaupun ia harus menginap di hotel capsul seperti yang ada di Jepang asalkan ia bisa bertemu kembali dengan Kyuhyunnya.

“Ayo kita masuk, aku sudah memesankan kamar untuk kita” ucap Viktor sambil membawa koper milik Changmin. Changmin dan Bovra mengikuti langkah pria itu dari belakang.

Kamar yang dipesan merupakan kamar dengan tempat tidur bertingkat. Luas kamar itu hanya sekitar lima kali lima meter dengan dua buah tempat tidur bertingkat yang cukup menampung empat orang dewasa.

“Kita langsung saja mencari Kyuhyun” desak Changmin tak sabar dengan kelakuan dua orang pria yang malah terlihat santai itu. Bovra dan Viktor terlihat saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya Bovra berkata “Baiklah, biar aku temani kau pergi”

“Lalu Viktor?”

“Aku ingin mandi sebentar, nanti aku akan menyusul”

Changmin sedikit bingung dengan jawaban kedua orang pria yang mulai terlihat aneh itu tetapi ia memutuskan untuk mengikut saja. Ia sendiri juga tak kenal siapapun di Praha dan ia membutuhkan kedua orang pria itu untuk menemukan Kyuhyun.

“Baiklah” jawab Changmin. Ia membawa postman bag yang berisi dompet, ponsel dan passport sementara koper miliknya ia tinggal di kamar.

.

.

.

.

Selama lima belas menit Changmin dan Bovra berjalan kaki dan akhirnya mereka sampai ke Old Town Square yang terlihat ramai.

“Sebelum kita pergi lebih jauh ada baiknya kau membawa uang Koruna. Kau bisa menukarkannya ke money changer” ucap Bovra “Biar kubantu, salah satu temanku bekerja di money changer, ia bisa memberi kurs yang tinggi untukmu” lanjutnya.

Merasa kalau kata-kata Bovra ada benarnya Changmin yang tak merasa curiga pun setuju dengan ajakan Bovra. Keduanya masuk ke dalam sebuah toko tua dan kecil yang ada di salah satu sudut gang tetapi begitu masuk ke dalam toko itu Changmin justru tidak menemukan siapa-siapa disana, tempat itu kosong dan sepertinya sudah lama tidak dihuni siapapun.

“Apa maksudnya ini?!” tanya Changmin, ia berbalik untuk melihat Bovra namun tiba-tiba saja sebuah tinju melayang ke pipinya, membuat tubuh Changmin oleng ke belakang dan ia langsung jatuh ke lantai. Memanfaatkan kesempatan itu Bovra menarik postman bag milik Changmin dengan paksa dan langsung lari dari tempat itu. Changmin yang sadar kalau ia baru saja ditipu dan dirampok langsung berlari mengejar Bovra tetapi pria itu langsung menghilang diantara kerumunan manusia yang menjejali Old Town Square.

“Sial!” Changmin yang sadar telah ditipu langsung berlari kearah hostel tempatnya menginap dan sesuai dengan dugaan Changmin, Viktor pun sudah menghilang dari sana membawa serta koper miliknya. Changmin kehilangan dompet, ponsel bahkan passportnya. Yang tersisa hanyalah baju yang melekat di tubuhnya dan surat cerai yang berada dalam saku belakang celananya.

.

.

.

.

Changmin memberitahukan kepada resepsionis yang ada di hostel itu kalau ia baru saja di rampok. Cukup sulit karena wanita yang menjaga counter resepsionis itu tidak mengerti bahasa Inggris, beruntung keduanya bisa mengerti bahasa Tarzan alias bahasa isyarat. Wanita itu pun mengizinkan Changmin untuk menginap satu malam di sana secara gratis, ia juga memberikan sebuah peta kota Praha pada Changmin dan memberitahukan dimana kedutaan berada agar Changmin bisa pulang ke Korea. Wanita itu juga berbaik hati memberikan Changmin train pass miliknya yang bisa digunakan untuk lima kali perjalanan dengan Metro train. Setelah mengucapkan banyak terima kasih Changmin pun memulai perjalanannya seorang diri di Praha. Ia kembali ke Old Town Square yang penuh sesak tadi. Berharap kalau-kalau ia bisa menemukan Bovra ataupun Viktor disana, ia sungguh ingin memukuli kedua lelaki itu sampai babak belur tetapi setelah hampir sejam berjalan ia tak juga menemukan kedua pria tadi.

Merasa lelah telah berjalan seharian Changmin pun memilih duduk di salah satu bangku yang ada di pinggir jalan. Menikmati kota Praha di malam hari. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat istana Praha di kejauhan, diantara bukit-bukit hijau nan indah. Saat sedang duduk-duduk itulah Changmin baru sadar kalau ia belum makan sejak siang. Perutnya mulai protes minta diisi tapi Changmin tak punya uang sepeserpun.

“Muzete jist svuj chleb” (kau boleh memakan rotiku) sebuah suara tiba-tiba mengusik pikiran Changmin yang mulai kosong. Di depannya telah berdiri seorang anak perempuan berwajah Asia namun jelas-jelas ia tadi berbicara dengan bahasa Ceko. Gadis kecil itu menyodorkan sebuah roti isi kepada Changmin.

“I don’t speak Czech” kata Changmin pada gadis kecil yang menatapnya ramah itu. Gadis itu memiliki mata bulat yang indah, mengingatkan Changmin pada mata Kyuhyun.

“Chapu…ale nemuzu mluvit anglicky” (Aku mengerti, tetapi aku tak bisa berbicara dengan bahasa Inggris) jawab gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya “Snist” (makanlah) lanjutnya sambil kembali mendorong roti isi yang ia pegang ke tangan Changmin.

“You want me to eat this?”

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.

Thank you” ucap Changmin tulus sambil mulai memakan roti isi itu dengan lahap, karena laparnya Changmin bahkan merasa itu adalah roti isi terenak yang pernah ia makan.

“Chinese?” tanya gadis kecil itu yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Changmin.

“No. I’m Korean” Jawab Changmin sambil mengunyah roti di mulutnya.

“Opravdu? Moje mama a daddy jsou take korean” pekik gadis itu girang, senyuman di wajahnya semakin lebar.

Walaupun tak bisa mengerti kata-kata yang keluar dari mulut gadis kecil itu tetapi Changmin menarik kesimpulan kalau kalimat barusan berarti ‘Benarkah? Ibu dan ayahku juga orang Korea’

“Then you’re a Korean too! It’s already evening, it’s dangerous for a little girl like you being alone. I’ve just got my wallet and bag stolen a few hours ago” tanya Changmin. Gadis itu mengerti apa yang ia katakan tetapi ia tak bisa membalas kata-kata Changmin dengan bahasa Inggris, jadilah mereka berdua berkomunikasi dengan dua bahasa yang berbeda.

“Byl jsem doprovodnych daddynka nakupovani. Brzy prijde”

Kening Changmin berkerut. Kali ini ia benar-benar clueless dengan kalimat yang diutarakan gadis kecil disampingnya itu.

Sadar kalau Changmin tak mengerti kata-katanya gadis kecil itupun mencoba menjelaskan dalam bahasa Inggris “Daddy…shopping. I wait here” jelasnya dengan bahasa Inggris yang kacau, Changmin pun mengangguk.

Changmin telah selesai dengan roti isi ditangannya sementara gadis kecil di sampingnya itu masih duduk disana. Changmin pun memutuskan untuk menemani gadis itu menunggu ayahnya, ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang telah menyelamatkan perutnya yang kelaparan itu.

“Mirka! Co tam delate? Hledam pro vas!” (Mirka! Apa yang kau lakukan disana? Aku mencarimu dari tadi!) sebuah suara yang sangat Changmin kenal berseru lantang dari arah kiri dimana gadis kecil disampingnya duduk. Changmin menolehkan kepalanya dengan cepat dan disana ia berdiri. Kyuhyunnya. Pria manis itu menenteng dua kantung belanjaan, wajahnya terlihat panik dan juga sedikit marah.

“Je mi lito. Jsem pomaha tento stryce” (Maafkan aku. Aku hanya menolong paman ini) ucap gadis kecil di samping Changmin. Ternyata tadi Kyuhyun memanggil gadis itu? Jadi…ini adalah…anaknya?

“Kyuhyun?” panggil Changmin saat sosok itu telah berdiri tepat di samping gadis bernama Mirka itu. Kyuhyun yang merasa mendengar suara yang familiar menoleh ke samping Mirka dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok mantan suaminya sudah duduk disana. Kyuhyun sedikit pangling dengan penampilan Changmin yang berantakan, rambut hitam itu sudah panjang setengkuk belum lagi facial hair yang menutupi wajah Changmin membuatnya hampir tak mengenali sosok pria yang sampai saat ini masih sangat ia cintai itu.

“Changmin…” bisik Kyuhyun tak bisa menutupi kekagetannya. Mirka sendiri terlihat bingung dengan reaksi dua orang dewasa yang ada di depannya itu. Changmin sudah berdiri dari duduknya dan sekarang ia berdiri berhadapan dengan Kyuhyun yang masih menatapnya tak percaya.

“Daddy? Znate ho?” (Daddy? Kau mengenalnya?) tanya Mirka pada Kyuhyun. Gadis kecil itupun menarik-narik celana Kyuhyun agar mendengarkan pertanyaannya.

“Ano…to je nekdo, ja vim” (Ya…ia seseorang yang aku kenal) jawab Kyuhyun pelan. Kedua pasang mata itu saling menatap dengan lekat sampai tiba-tiba Changmin menarik tangan Kyuhyun dan memeluk tubuh kurus itu dalam pelukan eratnya, sangat erat sampai-sampai Kyuhyun sendiri sulit bernafas.

“Akhirnya…akhirnya aku menemukanmu…” bisiknya lirih, tanpa sadar air mata Changmin mengalir membasahi pundak Kyuhyun dalam pelukannya.

.

.

.

.

Pemuda berparas manis itu menyelimuti sosok gadis kecil yang sedang terlelap diatas tempat tidur dengan selimut berwarna baby pink sebatas dada, setelahnya ia mengecup kening mungil itu dengan pelan sebelum akhirnya berjalan kearah pintu kamar Mirka yang masih berwarna baby pink.

Begitu pintu tertutup Kyuhyun menghela nafasnya dengan kuat. Ia tak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Ia tak menyangka akan kembali bertemu dengan Changmin.

Kyuhyun sangat terkejut saat Changmin tiba-tiba memeluknya saat di Old Town Square tadi. Terlebih lagi saat melihat kalau Changmin menangis. Shim Changmin, pria dingin dan kaku itu menangis! Menangis karena dirinya! Perasaan Kyuhyun jadi campur aduk begitu merasakan bagaimana air mata Changmin membasahi pundaknya, antara senang karena akhirnya bisa melihat sosok yang sangat dirindukannya itu atau bersedih karena pria itu justru menangis karenanya.

Setahun sejak ia meninggalkan Changmin dan jujur sampai saat ini Kyuhyun masih tak bisa berhenti mencintai pria itu, bahkan justru perasaannya pada sang mantan suami semakin kuat sejak ia pergi tapi keputusannya sudah bulat, ia ingin membahagiakan Changmin dan kalau dengan menceraikan Changmin pria itu akan bahagia maka ia tak akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Changmin pantas mendapatkan yang lebih baik darinya dan ia tak mau bersikap egois dengan memaksakan perasaannya pada Changmin yang jelas-jelas tak mencintainya.

‘Lalu kenapa ia mencarimu sampai kemari?’ tanya sebuah suara di dalam kepala Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng kuat ‘Jangan besar kepala dulu, Cho Kyuhyun’ ia pun kembali menarik nafas dalam-dalam. Dengan langkah-langkah panjang ia memutuskan untuk turun dari lantai dua, menjumpai sosok itu sekali lagi.

.

.

.

.

Changmin meneliti ruang makan minimalis yang ada di townhouse milik Kyuhyun itu. Kenapa ia bisa ada disana? Semua karena Mirka. Kalau tidak karena gadis kecil itu yang membujuk Kyuhyun untuk menolongnya, bisa dipastikan Kyuhyun akan mencoba lari lagi darinya. Mirka adalah gadis kecil yang baik tetapi melihat bagaimana sosok kecil itu begitu mirip dengan Kyuhyun, Changmin merasa sakit di dadanya.

Kyuhyun…’istri’nya itu tetap terlihat menawan setelah setahun tak bertemu. Wajah yang terlalu manis untuk ukuran pria dewasa dan kulit yang terlalu putih untuk seorang lelaki, semuanya terlihat sama dengan sosok Kyuhyun yang selalu menghantui mimpi dan pikiran Changmin. Begitu melihat bagaimana Kyuhyun berdiri di depannya Changmin refleks menarik pria itu ke dalam pelukannya and he still smells like vanilla and apples.

“Umm…maaf membuatmu menunggu” suara yang merdu itu menyapa pendengaran Changmin, ia langsung membalikkan tubuhnya dan menemukan Kyuhyun tengah berdiri di depan pintu dapur.

“Aku sudah biasa menunggu, Kyu”-ya…aku sudah menunggumu selama setahun-sambung Changmin dalam hati.

“Duduklah. Kau mau minum sesuatu?” tanya Kyuhyun sambil berjalan kearah lemari pendingin. Changmin mengikuti kata-kata Kyuhyun dan duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja makan.

“Apa kau mau minum air mineral? Aku tidak mempunyai stok beer atau alkohol lainnya” Kyuhyun meletakkan segelas air mineral di atas meja, tepat di depan Changmin.

“Aku berhenti minum alkohol” lanjut Kyuhyun lalu mengambil segelas lagi untuknya.

‘dan aku berubah menjadi pemabuk sejak kau pergi…’ tambah Changmin dalam hati. Ia tak ingin mengacaukan suasana diantara mereka dengan bertingkah terlalu emosional.

Kyuhyun duduk di depan Changmin. Keduanya hanya dibatasi oleh sebuah meja makan diantara mereka. Changmin masih tak bisa melepaskan tatapannya dari Kyuhyun sementara pria manis itu berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Changmin.

Selama beberapa menit keduanya hanya diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing dan mungkin juga sibuk mengatur detak jantung masing-masing yang seperti sedang melompat-lompat di dalam sarangnya. Changmin yang terlalu senang karena akhirnya bertemu kembali dengan Kyuhyun sementara Kyuhyun yang terlalu gugup karena tak menyangka akan ditemukan oleh Changmin.

“Victoria”-“Ibunya Mirka”

Keduanya akhirnya mengeluarkan suara secara bersamaan setelah lebih dari sepuluh menit hanya duduk dalam diam.

“Kau duluan” kata Kyuhyun menyuruh Changmin untuk mulai berbicara terlebih dulu.

“Dimana ibunya Mirka?” tanya Changmin. Ia sangat penasaran karena tak menemukan sosok wanita begitu mereka masuk kedalam rumah milik Kyuhyun itu.

“Oh…ia sedang ada pekerjaan di Budapest, ia baru akan pulang besok pagi” jelas Kyuhyun. Changmin mengangguk-angguk.

Sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakan Changmin. Pria itu ingin tau wanita seperti apa yang bisa menggantikan dirinya di hati Kyuhyun, wanita seperti apa yang bisa memberikan Kyuhyun seorang anak yang sangat mirip dengannya. Ia sungguh tak menyukai bayangan keluarga kecil Kyuhyun yang bahagia tanpa dirinya disana.

“Lalu…apa yang tadi ingin kau tanyakan?” sekarang giliran Changmin yang bertanya.

Kyuhyun terlihat enggan untuk beberapa saat namun akhirnya ia mulai bersuara kembali “Bagaimana kabar Victoria?” tanyanya.

“Aku tak tau…terakhir kudengar ia sudah kembali ke New York”

Alis Kyuhyun terangkat. Victoria kembali ke New York? Bagaimana mungkin…seharusnya ia dan Changmin sudah hidup bahagia berdua di Seoul.

“K-kenapa ia kembali ke New York?”

“Karena ia sadar aku tak mengharapkan kehadirannya…dan lagi ia ingin melebarkan sayapnya di dunia modelling” lanjut Changmin santai. Pria itu menikmati perubahan ekspresi Kyuhyun yang terlihat kaget dan bingung.

“Kupikir kalian kembali bersama…” lirih Kyuhyun.

“Kau pikir apa mungkin aku akan ada disini jika aku dan Victoria bersama?” Tanya Changmin.

Kyuhyun terdiam. Benar juga. Changmin adalah orang yang sangat setia, ia tau itu karena Victoria sering mengumbar padanya bagaimana Changmin memperlakukannya seakan-akan dirinya adalah satu-satunya wanita di hidup pria itu jadi tidak mungkin ia mengejar lelaki lain sementara dirinya bersama dengan Victoria.

‘Apa mungkin…’

Kyuhyun menolak untuk percaya kalau Changmin menginginkan dirinya.

“Aku mencarimu, Kyu. Aku terus mencarimu sejak kau meninggalkanku”

Dada Kyuhyun kembali bergemuruh, ia bisa merasakan tangannya mendadak dingin dan berkeringat. Ia tidak percaya dan tidak siap mendengar kalimat Changmin selanjutnya.

“Kau…kau bilang padanya akan menceraikanku” potong Kyuhyun, berusaha untuk tidak terbuai dengan kalimat Changmin barusan yang seperti memberinya harapan kalau pria itu juga mencintainya dan tak bisa hidup tanpanya.

Changmin tampak berpikir, kapan ia pernah mengatakan akan menceraikan Kyuhyun?

“Aku disana…aku melihat kalian berciuman, dan kau bilang padanya akan menceraikanku” bibir Kyuhyun bergetar saat ia mengucapkan kalimat barusan. Itu adalah memory yang berusaha ia lupakan tapi sampai sekarang justru hari dimana Changmin dan Victoria berciuman di kantor pria itu selalu menghantui mimpinya, membuatnya tak bisa tidur dengan tenang.

“Seharusnya kau tidak mengintip dan menguping pembicaraanku dengannya”

Kyuhyun tercekat. Apa maksud Changmin berkata begitu padanya? Bukankah ia punya hak untuk tahu? Saat itu ia masih menjadi istri sah Changmin.

“Jadi maksudmu…semua salahku? Aku tak seharusnya ada disana?” Kyuhyun tertawa getir “Ya benar…aku memang tak seharusnya berada disana, kita tak seharusnya menikah” Kyuhyun berdiri dari duduknya, ia menumpukan tubuhnya yang mendadak lemas dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja.

“Kyu…bukan itu maksudku, dengarkan aku” ucap Changmin sambil berusaha menggapai tangan Kyuhyun. Ia sekarang tau apa masalahnya. Kyuhyun merasa tak dicintai olehnya, memang Changmin lah yang salah dalam hal ini dan pria itu tak ingin kesalahannya di masa lalu kembali memisahkan dirinya dan Kyuhyun. Changmin ingin memperbaiki semuanya.

“Lalu apa? Aku tau kau tak bahagia denganku, kau tak mencintaiku…” Kyuhyun menundukkan wajahnya, pria manis itu menggigit bibirnya dengan kuat begitu kalimat terakhir berhasil ia ucapkan, sungguh miris rasanya harus mengakui itu dengan mulutnya sendiri.

“Kyu…lihat aku!” Changmin menegaskan suaranya. Sudah cukup Kyuhyun ber self-pity ria di depannya, ia ingin pria itu mengerti maksud kedatangannya ke Praha dan pencariannya selama setahun terakhir.

Dengan berat hari Kyuhyun menengadahkan kepalanya, menatap manik mata Changmin yang menatapnya lekat.

“Saat itu dia yang menciumku, kami tidak berciuman karena aku tak pernah membalas ciumannya dan lagi yang kau dengar itu hanyalah kalimat yang terpotong, Kyu. Harusnya kau mendengar kalimatku selanjutnya” Changmin menarik nafas kuat sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Kau lihat aku. Aku berubah. Rambutku memanjang tak terurus, makanku tak teratur, aku bahkan tak lagi bisa tidur dengan nyenyak, dan sudah seminggu lebih aku tak bercukur”

Kyuhyun memperhatikan Changmin, benar pria itu tampak berbeda, lebih berantakan dari yang terakhir Kyuhyun ingat. Padahal seingatnya, Changmin adalah orang yang sangat rapi, baik dalam berpakaian maupun dalam mengurus dirinya. Ia juga tak pernah lupa bercukur setiap pagi. Tapi, Changmin yang saat ini ada di hadapannya bukan lagi Changmin yang ia ingat dulu…pria itu terlihat menyedihkan. Sama seperti dirinya.

“Aku begini karenamu, Kyu. Tanpamu, aku berantakan. Hidupku berantakan. Pekerjaanku berantakan. Pikiranku berantakan. Hatiku pun berantakan. Aku tak akan seperti ini kalau aku tak mencintaimu, Kyuhyun”

Air mata yang telah ia tahan sejak tadi akhirnya menerobos keluar dari pelupuk matanya, Kyuhyun menangis mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Changmin. Pria itu mencintainya. Oh betapa bodoh dirinya yang selama ini hanya berusaha menyakiti dirinya sendiri dan juga orang yang ia cintai.

“Maafkan aku…” bisik Kyuhyun disela isakan tangisnya. Changmin berdiri dari duduknya dan menarik Kyuhyun kedalam pelukannya, membenamkan wajah manis itu di dadanya, membiarkan Kyuhyun mendengar bagaimana detak jantungnya berlompatan cepat karena Kyuhyun.

“Sssh…sudahlah, jangan menangis. Aku tak pernah menyalahkanmu. Kita tak akan seperti ini kalau saja aku bisa lebih cepat menyadari perasaanku padamu. Sudah lama sebenarnya kau menarik perhatianku, bahkan mungkin sebelum kita bertunanganpun aku sudah menyukaimu. Sayangnya aku terlalu keras kepala, Kyu. Aku merasa diriku tak akan pernah mencintai siapapun maka dari itu aku menyakitimu. Akulah yang harusnya meminta maaf padamu. Maafkan aku, Kyu. Aku mencintaimu”

Kyuhyun melingkarkan lengannya di punggung Changmin, balas memeluk pria tinggi itu dengan erat dan tak ingin melepaskannya lagi.

“Aku juga mencintaimu. Sangat” balas Kyuhyun. Sesaat keduanya hanya berpelukan, menikmati hangat tubuh masing-masing yang terasa sangat nyaman juga menenangkan. Melupakan sebentar masalah yang pernah terjadi, kesalahpahaman antar keduanya.

Momen indah itupun terbuyarkan oleh kalimat yang keluar dari Changmin.

“Tapi…kau sudah bahagia sekarang, Kyu. Kau dan keluarga kecilmu yang bahagia. Mirka bahkan sangat mirip denganmu”

Perlahan Kyuhyun mendorong tubuh Changmin, berusaha untuk menatap wajah tampan sang mantan suami.

“Maksudmu? Tunggu dulu…jadi kau pikir Mirka itu anakku?”

“Memangnya bukan?”

Kyuhyun memukul dada bidang Changmin, playfully.

“Usia Mirka sudah lima tahun, kau pikir aku akan berselingkuh darimu? Ia anak pertama noonaku, Ahra. Ini juga rumah Ahra. Kau tau kan kalau noonaku kabur dari rumah dan menikah diam-diam di Austria dengan dosen di fakultasnya? Mirka adalah anak mereka. Soal ia mirip denganku, itu karena aku dan Ahra juga mirip, sebenarnya ia mirip dengan ibunya”

Changmin terdiam, mulutnya membulat “Tapi Mirka memanggilmu daddy?”

Kyuhyun mendesah “Itu kebiasaannya saja. Mirka memanggil ayah ibunya dengan panggilan papa dan mama”

Changmin mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha memproses informasi yang baru saja diterima otaknya. Jadi…ia telah salah duga?

Tiba-tiba saja tawa Changmin meledak, pria itu tertawa begitu kuat sampai memegang perutnya. Kyuhyun sendiri terlihat bingung dengan tingkah sang mantan suami. Apa karena ia tinggalkan tanpa kabar Changmin jadi sedikit gila?

“Astaga, Kyu…aku merasa bodoh telah cemburu pada Mirka dan noona mu!” Ucap Changmin sambil menghapus air matanya. Ia tertawa sampai mengeluarkan air mata.

“Aku juga merasa bodoh karena telah berpikir kalau kau lebih memilih Victoria daripada aku”

Changmin tersenyum, satu tangannya bergerak mengelus pipi chubby milik Kyuhyun yang terlihat bersemu.

“Sepertinya kita memang berjodoh. Si bodoh dan si bodoh yang manis” Changmin menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuhyun. Bibir keduanya hampir menempel saat tiba-tiba Kyuhyun menghentikan pergerakan Changmin.

“Tunggu! Surat ceraiku…kita sudah bercerai, kan? Aku sudah menandatangani surat cerai itu…”

Changmin mendengus. Bisa-bisanya Kyuhyun merusak mood lovey dovey mereka dengan kembali membahas masalah perceraian.

Changmin merogoh saku belakang celananya “Maksudmu ini?” tanyanya sambil membuka lipatan kertas ditangannya dan menunjukkan surat permohonan cerai yang telah ditandatangani Kyuhyun di depan sang pria manis.

“Aku tak pernah menandatanganinya. Jadi, surat ini tidak valid” lanjut Changmin dan kemudian dengan mudahnya merobek kertas itu menjadi dua “Kau dan aku, kita tak pernah bercerai secara sah, jadi…nyonya Shim…kau masih menjadi istriku. Oleh karena itu jangan bicara lagi, aku ingin menciummu!” dengan gerakan cepat Changmin menarik belakang kepala Kyuhyun lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Kyuhyun. Awalnya Kyuhyun yang masih kaget dengan gerakan tiba-tiba Changmin hanya terdiam namun setelah beberapa detik akhirnya ia membalas ciuman Changmin. Tubuh mereka menempel dalam sebuah pelukan. Kedua sejoli ini tak sadar dengan dua pasang mata yang mengintip dari balik pintu dapur. Sosok wanita mirip Kyuhyun dengan pasangannya saling tersenyum, tidak sia-sia ia mengabari Changmin soal keberadaan Kyuhyun di Praha. Ini adalah tanda terima kasihnya pada Kyuhyun, Ahra ingin Kyuhyun mendapatkan kebahagiaannya dan itu artinya bersama dengan Changmin.

.

.

.

.

Epilogue

“Daddy! Ayo cepat bangun! Ini hari minggu…aku tak mau terlambat datang ke gereja!” omel Mirka tentu saja dalam bahasa Ceko pada Kyuhyun yang masih melingkar dalam selimutnya.

“Mirka…kenapa kau bisa ada di kamarku? Ini masih pagi sekali…bangunkan saja Changmin ahjusshi mu dulu” jawab Kyuhyun pelan dari dalam selimutnya.

“Changmin jusshi sudah bangun dari tadi, ia juga sudah pergi mendahului kita!” omel Mirka sambil berkacak pinggang, gadis kecil berumur lima tahun itu semakin mirip saja dengan ibunya kalau sudah mengomel.

Mendengar kalau Changmin sudah pergi Kyuhyun langsung membuka matanya, ia melihat ke sisi tempat tidurnya dimana tadi malam Changmin tidur dengannya namun tempat itu sudah kosong.

Akhirnya dengan berat hati Kyuhyun pun melangkah ke kamar mandi untuk bersiap. Ini masih jam enam pagi dan Mirka sudah merecokinya untuk pergi ke gereja. Benar-benar anak satu itu.

Setelah selesai dengan persiapannya, memakai kemeja berlengan panjang warna putih dengan maroon dan overcoat berwarna hitam Kyuhyun menggandeng tangan Mirka berjalan ke St. Jilji Church yang berada tak jauh dari Old Town Square. Kyuhyun sedikit bingung mendapati gereja itu sedikit sepi.

“Apa kau yakin kita datang jam segini? Tidak ada orang yang beribadah sepagi ini, Mirka” tanya Kyuhyun bingung tapi Mirka justru menarik tangannya menuju pintu utama gereja.

“Cepat dibuka, daddy!” desak Mirka. Perlahan Kyuhyun pun membuka pintu kayu besar itu dan begitu pintu tersebut dibuka ia disambut oleh sosok pria yang paling ia cintai telah berdiri di altar di depan seorang pendeta senior. Changmin mengenakan tuxedo warna hitam, pria itu sudah merapikan rambut dan juga bercukur, membuat dirinya terlihat sangat tampan.

“Ayo cepat masuk, Kyu…kau mau membiarkan mempelai pria mu menunggu lebih lama lagi?” tiba-tiba Ahra sudah berdiri di samping tubuhnya, menarik tangan sang adik untuk berjalan menuju altar dimana Changmin telah menunggunya.

“A-apa maksudnya ini?” tanya Kyuhyun bingung pada Ahra dan juga Mirka yang menarik tangannya untuk berjalan. Begitu sampai di sisi Changmin, pria tinggi itu meraih tangan Kyuhyun yang mendadak dingin dan menggenggam tangan itu dengan erat.

“Min?” panggil Kyuhyun sedikit berbisik sementara pendeta di depan mereka sudah mulai membacakan kalimat-kalimat yang terdengar tak asing di telinga Kyuhyun. Ia pernah mendengar ini sebelumnya.

“Changmin, do you take Kyuhyun to be your wedded wife? To have and to hold, to love and to cherish, in sickness and in health, in times of good and bad?” tanya sang pendeta sambil menatap pria tinggi dengan tuxedo hitam di depannya.

“I will”

“Kyuhyun, do you take Changmin to be your wedded husband? To have and to hold, to love and to cherish, in sickness and in health, in times of good and bad?” tanya sang pendeta pada sosok Kyuhyun yang masih terlihat bingung, namun pria itu tetap menjawab dengan yakin.

“I will”

Changmin berbalik untuk berdiri berhadapan dengan Kyuhyun. Ia mengangkat jemari mereka yang masih bertaut sambil mulai mengucapkan sumpah pernikahannya. Sumpah terakhirnya.

“In your eyes, I have found my home. In your heart, I have found my love. In your soul, I have found my mate. With you I’m whole, full, alive. You make me laugh, you let me cry. You are my breath, my every heartbeat. I am yours. You are mine. Of this we are certain. On this day I give you my last vow that I will walk with you, hand in hand, wherever our journey leads us. Living, learning, loving. Together. Forever”

.

.

.

.

.

END

3 thoughts on “His Last Vow – Part 2

  1. Kyaaa… aku suka endingnyaa.. aku kira itu beneran anak nya kyu.. tapi setelah di inget lagi. Kyu cuma ninggalin chwang 1th sedangkan anak itu udah 5 th.. hehehe
    Bagus banget momo chan ^^

  2. Kyaaa akhir’a MinKyu bersatu lgi… akhir’a smw ksalahpahaman yg trjadi trselesaikan.
    Kasian mereka sma” hrs trsiksa dngn perpisahan yg trjadi.
    Oia td’a aq kra mirka itu anak adopsi’a kyuhyun tp trnyata dia kponakan’a.

    Bagus ff’a. Keep writing momo ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s