His Last Vow – Part 1

“We are gathered here in the sight of God to join together these men in holy matrimony. The love of God is an example for your devotion, and you are not left without guidance concerning the meaning of that love because God is love and love is all. A wedding ceremony is the perfect place to read from Corinthians. This is what God said love is: Love is patient and kind, knows no jealousy, gives itself no false airs or false pride. Never irritated, never resentful, love is neither glad when others go wrong or become hurt. Love is guided by goodness, always eager to believe the best, always hopeful” pendeta senior itu berdiri diantara kedua sosok pria berpakaian rapi dengan tuxedo hitam dan putih. Para tamu undangan yang hadir di ruangan itupun langsung berdiri dari duduknya saat sang pendeta mulai dengan kalimatnya.

“Changmin, do you take Kyuhyun to be your wedded wife? To have and to hold, to love and to cherish, in sickness and in health, in times of good and bad?” tanya sang pendeta sambil menatap pria tinggi dengan tuxedo hitam di depannya.

“I will”

“Kyuhyun, do you take Changmin to be your wedded husband? To have and to hold, to love and to cherish, in sickness and in health, in times of good and bad?” tanya sang pendeta pada sosok yang berdiri di sebelah Changmin, pria yang bertubuh lebih kecil dari keduanya dan juga lebih manis itu tersenyum sebelum menjawab.

“I will”

Sang pendeta tersenyum, iapun menarik masing-masing tangan kedua pria di depannya, menyatukannya dalam sebuah genggaman, Changmin pun mulai membaca janji pernikahan yang telah ia hapal sebelumnya.

“I-Shim Changmin, came to this place today as a man standing along; I will walk from it by your side. Today, I across the threshold with you and enter into a new and lasting lifetime commitment. Cho Kyuhyun, I commit myself to you as your husband”

Ucap Changmin cepat, wajahnya tak menunjukkan perasaan bahagia ataupun haru seperti yang biasanya ditunjukkan oleh seorang mempelai pria yang akan menikah dengan pasangan hidupnya. Changmin hanya membaca kata demi kata yang telah ia hapal itu tanpa perasaan apapun, seakan-akan ia berdiri di sana hanya sebagai kewajiban.

“Shim Changmin, our miracles lies in the path we have choosen together. I-Cho Kyuhyun, enter this marriage with you knowing that the true magic of love is not to avoid changes but to navigate them succesfully. Let us commit to the miracle of making each day work-together with me as your wife”

Berbeda dengan Changmin yang ingin semuanya berlalu dengan cepat Kyuhyun justru mengucapkan setiap untaian sumpahnya itu dengan pelan dan berhati-hati, menatap sosok tinggi dengan tuxedo hitam yang sebentar lagi akan menjadi suami sahnya itu dengan tatapan memuja dan penuh harap, seakan-akan Changmin adalah satu-satunya pria yang pernah ada dalam hidupnya.

Setelah keduanya selesai mengucapkan janji setia mereka sang pendeta pun menyerahkan dua buah cincin sebagai pengikat hubungan mereka. Dengan cepat Changmin mengambil cincin yang berukuran lebih kecil lalu memasangkannya ke jari Kyuhyun, Kyuhyun pun melakukan hal yang sama dengan cincin milik Changmin.

“Now, I announced you to be husband and wife, you may kiss your bride” kata sang pendeta sambil tersenyum bahagia.

Seluruh tamu yang hadir pun terlihat tersenyum saat dengan perlahan Changmin menundukkan kepalanya sementara Kyuhyun menutup matanya erat. Tanpa berlama-lama Changmin mencium bibir pinkish milik Kyuhyun dengan cepat, hanya sekedar menempelkan bibir mereka satu sama lain.

Kyuhyun membuka matanya bersamaan dengan riuh tepuk tangan tamu-tamu mereka, ia melirik kearah Changmin yang sekarang berdiri di sampingnya, menatap lurus kearah para tamu yang hadir. Kyuhyun hanya bisa mencoba untuk tetap tersenyum saat ia melihat bagaimana Changmin mengepalkan jari-jari tangannya.

‘Maafkan aku, Changmin…’

.

.

.

.

Title : His Last Vow

Pairing : ChangKyu (Changmin x Kyuhyun)

Rating : T

Genre : Romance, Drama, Hurt

Word Counts : 5.743

Part 1 from 2

Disclaimer : SM own them, I can only disclaim the plot and story. No plagiarism allowed.

Warning : As per usual, this story contain a male x male relationship and I’m using Kyuhyun and Changmin only to convey my wild imagination as a fangirl and fujoshi. Please do not bash the character from this story. If you’re homophobic and hating the idea of Changmin and Kyuhyun together just DON’T READ ANY FURTHER.

A/N : if any of you ever watch Sherlock you would know where the title came from, lmao😄 I’ve been caught up with Sherlock and dear God knows how hawt Benedict Cumberbatch as Sherlock Holmes, merely imagining him and I’m almost salivating😄

p.s : a repost from my acc in fanfiction.net

.

.

.

.

Changmin sedang duduk di depan meja makan dengan sebuah koran ditangan ditemani oleh secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap di depannya. Seperti biasa Changmin akan bangun pagi dan menyempatkan diri untuk membaca koran pagi sebelum akhirnya berangkat ke kantor tepat pukul delapan.

Pria tinggi itu baru saja meletakkan korannya keatas meja saat sebuah suara yang sangat ia kenal menyapanya.

“Selamat pagi”

Changmin menengadahkan wajahnya untuk melihat sosok itu sudah berdiri tepat di depan pintu dapur. Sosok yang sejak setahun lalu menjadi pendamping hidupnya.

“Pagi” jawab Changmin singkat, ia mengambil cangkir kopi yang terletak diatas meja dan menyesap kopi pahit itu dengan perlahan.

“Aku akan menyiapkan sarapan”

Ucap sosok itu lagi sambil berjalan cepat kearah kitchen counter.

“Tak usah, aku sudah akan berangkat” tolak Changmin sambil berdiri dari duduknya. Meletakkan kembali gelas berisi kopi yang baru ia minum setengahnya.

“Tapi…”

“Aku pergi” Changmin berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri terdiam di tempatnya, menatap punggung Changmin yang berjalan menjauh darinya. Seperti biasanya.

Kyuhyun bisa mendengar pintu depan apartemen yang mereka tinggali berdua ditutup dengan lumayan keras, tanda kalau Changmin baru saja pergi. Kyuhyun membuang nafasnya pelan lalu bergerak kearah kursi yang tadi diduduki Changmin dan duduk disana.

Sudah setahun dan tak ada perubahan dari sikap Changmin padanya. Changmin memang tak menyiksa fisik Kyuhyun, ia bahkan tak pernah membentak dan berkata-kata kasar kepada Kyuhyun tetapi sikap dinginnya itu membuat Kyuhyun tersiksa secara batin.

Pernikahan mereka memang didasari oleh janji. Perjanjian kedua orang tua mereka, dimana orang tua Changmin yang merasa berhutang budi kepada orang tua Kyuhyun berjanji akan menikahkan putra mereka kepada anak dari keluarga Cho. Seharusnya Ahra-kakak dari Kyuhyun lah yang menikah dengan Changmin tetapi wanita yang berusia lima tahun lebih tua dari Kyuhyun itu justru kawin lari dengan pria berkebangsaan Austria yang menjadi gurunya saat sekolah musik disana, akhirnya tanggung jawab itupun jatuh kepada Kyuhyun. Kyuhyun tak menolak karena ia menyukai Changmin bahkan sebelum mereka ditunangkan.

Kyuhyun dan Changmin sudah saling kenal sejak sekolah menengah atas, Changmin sendiri adalah kekasih dari sahabat Kyuhyun, Victoria. Sebenarnya jauh sebelum Victoria mengenalkan Changmin padanya Kyuhyun sudah memperhatikan sosok pria bertubuh tinggi itu. Sejak kecil Kyuhyun sadar dirinya berbeda dari teman-temannya yang lain, disaat teman-temannya di sekolah menengah pertama mulai bercerita mengenai Maria Ozawa dan Sora Aoi, Kyuhyun justru tak tertarik dengan wanita-wanita yang dipuja oleh teman-temannya itu, sebaliknya Kyuhyun malah menyukai sosok model-model pria yang menghiasi dinding kamar Ahra.

Kyuhyun terbuka dengan preferensi seksualnya, ia mengatakan pada kedua orang tuanya kalau dirinya menyukai sesama jenis saat ia duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Awalnya kedua orang tua Kyuhyun terkejut dan hampir mencoret nama Kyuhyun dari silsilah keluarga mereka, tak terima dengan kelainan yang dimiliki anak lelaki semata wayang mereka, keluarga Cho adalah keluarga terpandang dan penganut Kristen yang taat, tak mungkin mereka bisa menerima begitu saja pengakuan Kyuhyun kalau dirinya adalah seorang gay. Butuh waktu setahun bagi kedua orang tuanya menerima Kyuhyun kembali, bagaimanapun juga ikatan darah tak mungkin bisa diputus hanya karena egoisme dan perasaan malu.

Kembali lagi ke pernikahan Kyuhyun dan Changmin setahun lalu. Saat itu mereka berdua berusia 26 tahun dan pernikahan mereka dilangsungkan di Belanda dengan hanya dihadiri oleh kerabat dekat dari kedua keluarga. Kyuhyun merasa sangat bahagia karena bisa bersama dengan pria yang sebenarnya menjadi cinta pertamanya tetapi kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh Changmin. Kyuhyun tau kalau Changmin terpaksa menikahinya karena rasa tanggung jawab yang dimilikinya pada keluarganya dan Kyuhyun bisa menerima itu semua asalkan Changmin berada di sisinya.

‘Tak apa kalau aku tak bisa memiliki hatinya, paling tidak ragaku dan dia bisa bersama’

Itulah yang Kyuhyun katakan saat Ahra bertanya soal keseriusannya menerima lamaran dari keluarga Shim. Awalnya Kyuhyun senang dengan hanya menyandang status sebagai ‘istri’ sah dari Changmin tetapi lama kelamaan Kyuhyun berharap lebih, ia ingin Changmin melihatnya.

Changmin adalah seorang pria yang baik. Meskipun ia sebenarnya tak menyetujui ide gila pernikahan sesama jenis yang dilakukan keluarganya itu tetapi Changmin tak pernah menyalahkan Kyuhyun yang menerima lamaran keluarganya. Selama setahun kehidupan pernikahan mereka Changmin tak pernah berbuat kasar kepada Kyuhyun, baik itu dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku. Changmin tak pernah memarahi Kyuhyun, tak pernah menyuruh-nyuruh Kyuhyun, tak pernah mengatur hidup Kyuhyun karena Changmin sendiri tak pernah menganggap kehadiran Kyuhyun di sisinya. Changmin bersikap dingin namun tidak kasar.

‘Aku menikahimu karena itu adalah kewajibanku. Tapi tolong jangan banyak berharap dariku. Aku tak bisa mencintaimu’

Kata-kata itu keluar dari mulut Changmin di malam pengantin mereka. Kyuhyun mati-matian berusaha menahan tangisnya saat Changmin dengan tatapan dingin mengatakan kalimat itu padanya lalu meninggalkan dirinya di kamar utama untuk tidur di kamar tamu yang sampai saat ini tetap dilakukan Changmin. Changmin dan Kyuhyun memang tinggal serumah tetapi keduanya tidur di kamar yang berbeda. Kyuhyun tidur di kamar utama sementara Changmin memilih untuk tidur di kamar tamu.

Kyuhyun melihat cangkir kopi yang ditinggalkan Changmin diatas meja. Perlahan jemari lentik itupun bergerak untuk mengangkat cangkir tersebut ke bibirnya, meminum sisa kopi yang ditinggalkan Changmin walaupun Kyuhyun tak pernah suka dengan kopi dan minuman pahit lainnya.

“Pahit” bisik Kyuhyun lirih setelah isi cangkir itu habis.

.

.

.

.

Changmin melepaskan kacamata yang sejak tadi ia pakai lalu memijit batang hidungnya dengan pelan. Sejak sejam yang lalu ia terus-terusan menatapi dokumen-dokumen penting yang harus segera di review dan ia tanda tangani, lehernya saja sudah pegal karena terus menerus menunduk.

Pria tinggi itu sedang bergerak untuk meregangkan otot-ototnya yang tegang saat smartphone di saku jasnya mendadak bergetar.

Changmin membuka pesan yang masuk. Dari Kyuhyun.

“Jangan lupa untuk makan siang”

Begitulah isi pesan singkat dari Kyuhyun yang tak pernah ia balas. Changmin menatap deretan angka di jam tangannya, sudah pukul dua belas. Pantas saja Kyuhyun mengiriminya pesan seperti ini. Pria yang menjadi ‘istri’nya itu memang selalu mengiriminya pesan setiap hari walaupun ia tahu Changmin tak akan pernah membalas pesannya.

Pesan-pesan singkat penuh perhatian seperti ‘Jangan lupa makan’ ‘Kau pulang jam berapa? Aku akan menunggumu’ ‘Kau lembur? Mau kubawakan makanan?’ dan sebagainya yang tak pernah sekalipun dibalas oleh Changmin. Changmin tau dirinya terkesan sangat dingin dan kejam pada Kyuhyun yang jelas-jelas peduli dan perhatian padanya tetapi semua yang ia lakukan adalah karena ia tak ingin memberikan harapan pada Kyuhyun. Changmin sudah mengatakan dari awal kalau ia tak bisa mencintai Kyuhyun dan bersikap manis pada Kyuhyun hanya akan memberinya harapan-harapan semu. Changmin sadar tingkahnya menyakiti Kyuhyun tapi ia tak bisa mencintai pria itu. Ia tak pernah mencintai siapapun.

Changmin memang pernah berhubungan dengan beberapa wanita sebelum akhirnya menikah tapi tak satupun dari wanita-wanita itu pernah benar-benar ia cintai dan Changmin pun merasa ia tak akan mungkin bisa mencintai Kyuhyun.

“Changmin-ah…ini ada beberapa berkas yang harus kau tanda tangani”

Kim Junsu, asisten sekaligus sekretarisnya tiba-tiba saja masuk lalu meletakkan tiga buah map berwarna biru di atas mejanya.

Changmin menatap ketiga berkas baru yang harus ia tanda tangani itu lalu menatap kearah Junsu.

“Ini sudah jam makan siang. Aku ingin makan dulu”

Kata Changmin lalu berdiri dari duduknya.

“Y-yah! Tapi berkas ini harus segera kau tanda tangani, Changmin-ah!”

Junsu kelagapan saat Changmin justru dengan santai berjalan keluar dari ruangannya. Changmin menjabat sebagai general manager yang dibawahi langsung oleh direktur utama yakni ayahnya sendiri.

“Makan siang juga harus kulakukan sesegera mungkin. Ini perintah”

Jawab Changmin santai sambil memasukkan kembali smartphone ditangannya kedalam saku jasnya.

.

.

.

.

“Kerja yang baik, Kyuhyun-ah!” seru Eunhyuk, sahabat sekaligus manajer Kyuhyun begitu pria manis itu keluar dari ruang rekaman. Sejak setahun belakangan ini memang Kyuhyun lebih memfokuskan dirinya sebagai penyanyi solo, meninggalkan dunia teater yang selama ini ia tekuni, semua itu ia lakukan demi menjadi ‘istri’ yang baik untuk Changmin. Kyuhyun tak mau kesibukannya di dunia teater membuat dirinya tak bisa selalu ada di rumah untuk Changmin sementara jika ia menjadi penyanyi solo seperti sekarang ini Kyuhyun bisa mengatur jadwalnya sendiri dan tidak terikat oleh waktu.

“Terima kasih, hyung. Setelah ini apa aku ada jadwal lain lagi?” tanya Kyuhyun pada pria bergummy smile yang saat ini sedang berdiri di depannya. Eunhyuk membuka buku agenda yang ada di tangannya, mengecek jadwal Kyuhyun.

“Hmmm…jadwalmu kosong sampai lusa. Kau sendiri yang bilang harus mengosongkan jadwal untuk besok karena besok adalah ulang tahun pernikahan kalian” jawab Eunhyuk, membuat wajah Kyuhyun sedikit bersemu.

Besok, tepat di hari ulang tahun Kyuhyun adalah perayaan satu tahun pernikahannya dan Changmin. Kyuhyun sudah memesan cake dan menyiapkan wine terbaik untuk hari penting itu, ia bahkan sengaja mengosongkan jadwalnya dari jauh-jauh hari.

“Oh ya…tadi ada pesan yang masuk ke smartphone mu” ucap Eunhyuk sambil menyerahkan smartphone putih milik Kyuhyun kepada pemiliknya.

“Annyeong, Kyu! Kau ingat aku? Aku sudah kembali dari New York. Bagaimana kalau kita bertemu hari ini? Jam dua di café yang biasa kita datangi saat sekolah dulu. I’ll be waiting

Pesan dari Victoria.

.

.

.

.

Kyuhyun bisa saja menolak ajakan bertemu Victoria dengan alasan dirinya sibuk tapi justru disinilah ia berada sekarang, di sebuah café kecil yang berada disalah satu sudut jalan sibuk Myeongdong dimana ia dan Victoria sering datang dulu ketika mereka masih bersahabat.

Kenapa Kyuhyun bilang ‘dulu saat masih bersahabat’? Kyuhyun sadar keputusannya menikah dengan Changmin pasti membuat Victoria terluka, bagaimanapun juga pada saat itu Changmin memang masih berhubungan dengan Victoria dan sahabatnya itu sangat mencintai Changmin.

“Maaf membuatmu menunggu” sapa Kyuhyun begitu ia menemukan sosok Victoria yang sedang duduk di meja mereka yang biasa. Kyuhyun memperhatikan Victoria dari atas ke bawah, wanita ini masih seperti yang dulu. Dangerously beautiful.

“Akhirnya kau datang juga, Kyu. Kupikir kau tak akan datang” reaksi yang diberikan Victoria benar-benar di luar dugaan Kyuhyun. Pria manis itu sempat berfikir Victoria akan langsung menumpahkan isi cangkirnya ke arah Kyuhyun tetapi ternyata ia justru disambut dengan hangat.

“Hey Kyu! Kenapa masih berdiri disitu? Ayo duduk!”

Begitu Kyuhyun duduk di seberang Victoria, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka, memberikan buku menu.

“Hmm…aku mau caramel machiatto saja. Kau mau apa Kyu?”

Kyuhyun berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab “Aku milk tea saja”

Setelah selesai mencatat pesanan keduanya pelayan itu pun berbalik meninggalkan meja Kyuhyun dan Victoria.

“Kenapa kau diam terus sejak tadi? Sudah lebih dari setahun kita tak bertemu, apa kau tak merindukanku?” tanya gadis itu saat Kyuhyun tak juga mengeluarkan suara.

Kyuhyun terlihat bingung untuk memulai pembicaraan. Ia masih merasa bersalah pada sahabatnya itu. Bahkan ia merasa tak pantas disebut ‘sahabat’ oleh Victoria lagi.

“Aku…”

“Bagaimana kabar Changmin?”

Mata Kyuhyun melebar begitu mendengar nama suaminya keluar dari mulut Victoria. Kyuhyun yang sejak tadi menunduk langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat Victoria.

“Maaf aku tak datang ke pernikahan kalian. Aku sibuk sekali waktu itu. Kau tau kan aku baru saja memulai karir modelling ku secara profesional saat itu”

Kyuhyun bersyukur karena tiba-tiba saja pelayan yang tadi menghampiri meja mereka, membawakan pesanan keduanya. Paling tidak Kyuhyun terselamatkan dari pertanyaan Victoria barusan.

“Haah…caramel machiatto di tempat ini memang yang paling enak. Bahkan di New York aku tak bisa menemukan yang seperti ini. Changmin juga pernah bilang ia sangat suka dengan caramel machiatto yang dibuat di café ini”

Kembali tubuh Kyuhyun menegang begitu nama suaminya keluar dengan mulusnya dari mulut Victoria.

“Oh ya…kau belum menjawab pertanyaanku, Kyu. Bagaimana kabar Changmin? Apa ia masih suka makan seperti dulu? Aku ingat ia bisa menghabiskan dua porsi pizza ukuran besar sendirian”

Kyuhyun meremas tangannya yang terasa dingin. Ia tak suka Victoria terus-terusan menyebut nama suaminya itu. Terlebih lagi Victoria mengatakan hal-hal yang tidak Kyuhyun tau mengenai Changmin.

“Ah ya! Changmin juga sangat suka warna ungu. Aku bingung padanya, biasanya laki-laki kan tidak suka warna ungu”

“Apa Changmin masih serius seperti dulu? Aku ingat ia pernah memarahiku karena aku duduk disampingnya ketika ia sedang membaca. Padahal aku tidak merecokinya. Aku hanya duduk di sampingnya dan ia langsung menyuruhku menjauh”

Kumohon berhenti bicara.

“Changmin juga sangat mudah kena flu tapi ia tak pernah bilang kalau dirinya sedang sakit. Membuat orang-orang repot”

“Bisakah kau berhenti, Vict?”

Tiba-tiba Kyuhyun mengeluarkan suara yang terus ditahannya sejak tadi, ia sudah tak tahan dengan semua celotehan Victoria tentang suaminya, terlebih lagi semua hal yang diucapkan Victoria itu terasa asing bagi Kyuhyun. Seakan-akan Victoria ingin menunjukkan padanya kalau dirinya lebih kenal Changmin.

Victoria terdiam saat ia merasakan nada suara Kyuhyun yang terkesan dingin.

“Apa maksudmu mengajakku bertemu?” tanya Kyuhyun, hilang sudah rasa segan dan takutnya sejak tadi, berganti dengan rasa marah dan muak pada sosok orang di depannya itu. Kyuhyun yakin setelah mendengar semua kata-kata yang diucapkan Victoria kalau alasan wanita itu bertemu dengannya kali ini bukanlah sekedar ingin bertemu dengannya.

Victoria tersenyum. Ia senang dengan Kyuhyun yang cepat tanggap. Sejak sekolah memang Kyuhyun terkenal sebagai sosok murid teladan yang pintar dan disayangi guru-guru, berbeda dengan dirinya. Sejak dulu juga Victoria diam-diam menyimpan rasa iri pada sosok pria manis di depannya ini. Wanita itu tahu kalau Kyuhyun sudah lama menyukai Changmin, karena itu ia sengaja memacari Changmin. Victoria tahu Changmin bukanlah orang yang mau menolak wanita yang datang padanya, ia memanfaatkan sifat Changmin ini untuk menyakiti Kyuhyun, paling tidak ada satu hal yang bisa ia banggakan di depan Kyuhyun, seseorang yang sangat ingin dimiliki Kyuhyun namun justru menjadi miliknya.

Setahun yang lalu saat Changmin dan Kyuhyun bertunangan Victoria baru sadar kalau dirinya selama ini telah jatuh cinta pada Changmin, sosok Changmin yang pendiam namun perhatian, terkesan dingin namun justru sangat melindungi. Sampai saat ini Victoria masih tak bisa melupakan Changmin dan ia bertekad untuk mengambil apa yang selama ini menjadi miliknya. Mengambil Changmin dari Kyuhyun.

“Kau tau kan alasanku dan Changmin putus saat itu adalah karena perjodohan kalian?”

Kedua belah bibir pinkish Kyuhyun terkatup rapat. Kyuhyun mencoba untuk meredam amukannya dengan mengepalkan jemarinya semakin erat.

Menyadari Kyuhyun tak akan menjawab pertanyaan retoriknya tersebut Victoria pun melanjutkan kalimatnya.

“Kupikir dengan pergi ke New York aku bisa melupakannya tapi ternyata sampai saat ini aku masih mencintainya”

Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak dan kepalanya mendadak pusing.

“Aku ingin kau mengembalikan Changmin padaku, Kyu”

Kyuhyun mengepalkan jemarinya semakin erat, membuat telapak tangannya terasa sakit.

“Changmin bukan barang, Vict”

“Kami saling mencintai, Kyu…tak kah kau sadar kalau ia menikahimu karena terpaksa?”

Aku tau. Kau tak perlu mengingatkanku.

“Aku tak akan menceraikannya”

“Kalau begitu apa kau akan pergi jika ia yang menceraikanmu?”

Kyuhyun tercekat, nafasnya seperti tersangkut di tenggorokannya, membuat dadanya terasa semakin sesak.

“Aku tak ingin melanjutkan pembicaraan ini”

Kyuhyun berdiri dari duduknya, sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak jatuh walaupun kakinya terasa lemas sekali saat ini. Keadaan dadanya yang mendadak sesak juga tak membantu sama sekali.

“Kau tau siapa yang akan Changmin pilih, Kyu”

BRAK

Kyuhyun memukul kepalan tangannya keatas meja, membuat beberapa pengunjung yang ada disana melihat kearah mereka. Mata bulat Kyuhyun menatap Victoria yang terlihat tak gentar dan justru balas menatapnya sengit.

“Pembicaraan kita selesai, Vict”

Dengan kasar Kyuhyun menarik jaket yang tadi ia letakkan di atas kursi dan berlalu dari café itu, meninggalkan Victoria yang tersenyum menatap punggung pria manis berkulit pucat itu.

.

.

.

.

Dengan pelan Changmin membuka pintu depan apartemen yang ia tinggali berdua dengan Kyuhyun. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan ia baru saja pulang dari kantor. Pemandangan apartemen yang gelap dan sunyi membuat dahi Changmin sedikit berkerut. Tidak biasanya Kyuhyun membiarkan lampu di rumah mereka padam saat Changmin belum pulang dari kantor. Kaki-kaki panjang Changmin membawa pria tinggi itu berjalan hingga ke ruang tengah yang kosong. Tak ada sosok Kyuhyun disana. Padahal biasanya Kyuhyun akan menungguinya pulang selarut apapun ia pulang dari kantor, menyapanya dengan pertanyaan ‘Bagaimana harimu? Kau tak lupa makan, kan?’ atau jika pria itu sudah terlalu ngantuk dia hanya akan berkata ‘Akhirnya kau pulang. Istirahatlah, ini sudah sangat larut’ tetapi kali ini Changmin tak disambut oleh sosok ‘istri’nya itu. Yang ada hanyalah ruangan kosong dan gelap.

Mungkin dia sudah tidur.

Pikir Changmin sambil berjalan kearah kamarnya dan disana ia menemukan sosok sang ‘istri’ yang tanpa sadar ia cari sejak tadi. Pria manis itu sedang duduk di depan pintu kamar Changmin sambil memeluk kedua kakinya di depan dada dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

“Kyu? Sedang apa kau disini?” tanya Changmin bingung, ia menyentuh puncak kepala Kyuhyun, sedikit mengelus surai ebony yang terasa sangat lembut itu “Kepalamu panas, Kyu. Kau sakit?” Changmin tak bisa menutupi rasa khawatirnya saat merasakan betapa panas kepala Kyuhyun yang ia pegang tadi.

Perlahan wajah manis itu pun mendongak. Walaupun pencahayaan di ruangan itu sedikit temaram tetapi Changmin bisa melihat bagaimana mata bulat Kyuhyun menatapnya sayu, berbeda dengan tatapan yang biasa diberikan Kyuhyun padanya.

“Aku menunggumu pulang”

“Kau bisa menunggu di ruang tengah seperti biasa, kenapa malah duduk disini? Kau sedang sakit” Changmin merasa takjub dengan dirinya sendiri, bisa dibilang ini adalah pertama kalinya dirinya dan Kyuhyun terlibat dalam perbincangan yang berisi lebih dari dua kalimat.

“Aku baik-baik saja, Min”

Min?

Belum cukup rasa kaget Changmin karena Kyuhyun baru saja memanggil nama pendeknya Changmin kembali dikejutkan oleh pertanyaan Kyuhyun berikutnya.

“Apa warna favoritmu?”

Kembali dahi Changmin berkerut. Ada yang tak beres dengan tingkah Kyuhyun hari ini.

“Ungu”

“Angka keberuntunganmu?”

“Tujuh”

“Minuman kesukaanmu?”

“Caramel machiatto”

“Makanan kesukaanmu?”

“Kyu…kau sedang sakit, sebaiknya kau segera beristirahat” Changmin mencoba menarik tangan Kyuhyun untuk berdiri tetapi pria manis itu justru menolak.

“Jawab saja, Min…aku ingin tahu semua tentangmu…semua yang dia tahu tentangmu…”

Dia?

“Tidak ada yang spesial, aku suka semua makanan”

“Lalu…film favoritmu?”

“Kyu, sudah cukup tanya jawabnya. Sekarang kau harus istirahat” kembali Changmin berusaha menarik tubuh Kyuhyun untuk berdiri tetapi pria itu tetap menolak.

“Aku tak suka kalau dia tahu lebih banyak tentangmu” suara Kyuhyun sangat lemah sampai-sampai terdengar seperti bisikan.

“Dia? Siapa?” tanya Changmin bingung. Apa Kyuhyun sedang ngelindur?

Belum sempat Kyuhyun menjawab tiba-tiba tubuh kurus dan ringkih itu oleng ke samping, Kyuhyun nyaris membentur lantai kalau saja refleks Changmin kurang cepat menahan tubuhnya yang hampir jatuh.

“Kyu?” panggil Changmin saat ia merasakan deru nafas Kyuhyun yang terasa panas dan kedua mata Kyuhyun yang tertutup rapat. Pria ini sedang demam.

Changmin meletakkan tasnya dilantai lalu dengan kedua tangannya ia mengangkat tubuh Kyuhyun kedalam gendongannya.

“Ringan sekali. Apa kau makan dengan benar selama ini?”

Setelah berhasil meletakkan Kyuhyun diatas tempat tidurnya Changmin berjalan ke kamar mandi untuk menyiapkan kompres lalu berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum dan obat penurun panas. Sepertinya ia harus merawat istrinya malam ini.

.

.

.

.

Kyuhyun membuka matanya yang terasa berat dan pemandangan yang pertama ia lihat benar-benar membuatnya kaget.

“Aku dimana?” tanyanya bingung saat menyadari dirinya berada di dalam kamar yang asing.

Kyuhyun mengangkat satu tangannya untuk memegang dahinya, disana ia menemukan sebuah handuk kecil untuk mengompres. Sepertinya semalam ia demam. Memang sejak kemarin ia merasa kurang enak badan, puncaknya setelah pertemuan singkatnya dengan Victoria suhu tubuhnya mendadak naik.

Bicara Victoria Kyuhyun jadi teringat dengan mimpinya semalam, di dalam mimpinya itu Changmin menggendong tubuhnya ala bridal dan terus mengelus kepalanya hingga ia tertidur.

“Changmin!” pekik Kyuhyun saat ia menyadari ia sedang berada di dalam kamar Changmin. Kyuhyun melihat kesekelilingnya tapi ia tak menemukan sosok suaminya itu disana. Kyuhyun melihat meja kecil yang ada disamping tempat tidur dan menemukan secarik kertas terselip dibawah sebuah mangkuk berisi bubur. Kyuhyun mengambil kertas tersebut dan seketika dadanya terasa hangat.

Aku pergi ke kantor. Makanlah bubur yang sudah kusiapkan dan jangan lupa minum obat setelahnya.

Itu tulisan tangan Changmin. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum. Jadi yang tadi malam itu bukanlah mimpinya? Changmin benar-benar merawatnya? Pipi Kyuhyun kembali bersemu, kali ini bukan karena demam tetapi karena seorang pria bernama Shim Changmin.

“Bolehkah aku berharap kau akan memilihku, Changmin-ah?”

.

.

.

.

Terima kasih untuk buburnya, rasanya sangat enak. Sebagai ucapan terima kasih aku akan mengantarkan makan siang untukmu ke kantor. Kau tak boleh menolak!

Bibir Changmin tertarik membentuk sebuah senyuman saat membaca pesan singkat dari Kyuhyun. Changmin merasa tenang karena ternyata Kyuhyun sudah kembali sehat. Jujur saja Changmin sangat panik tadi malam saat Kyuhyun mendadak pingsan karena demam, ia sampai tak tidur karena menjaga Kyuhyun yang tertidur di tempat tidurnya.

‘Apa aku menyukainya?’

Changmin mulai bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia tak ingin memberikan harapan kepada Kyuhyun tapi di sisi lain ia tak bisa membiarkan Kyuhyun.

“Mau sampai kapan kau senyum-senyum sambil menatapi layar smartphone mu itu, Changminnie?” pertanyaan Junsu mengusik lamunan Changmin. Pria bertubuh tinggi itupun menatap Junsu yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi yang ada di depan mejanya.

“Apa aku tersenyum?”

Junsu memutar matanya mendengar pertanyaan bodoh dari bossnya itu. Terkadang Junsu bingung dengan kelakuan Changmin, pria itu sebenarnya cassanova atau malah pria polos yang tak kenal arti cinta?

“Bagaimana ekspresiku tadi?”

“Kau seperti pria yang sedang jatuh cinta”

Mata Changmin melotot. Jatuh cinta? Ia mencintai Kyuhyun?

“Berhenti menunjukkan ekspresi bodohmu itu Shim Changmin dan cepat tanda tangani berkas ini. Aku harus segera memberikannya kepada sajangnim” omel Junsu sambil menunjuk berkas yang ada di depan Changmin. Tanpa perlawanan Changmin pun melakukan pekerjaannya, membiarkan Junsu meneliti dirinya.

Junsu memang dikenal sebagai pria polos tapi sebenarnya ia bisa melihat lebih dalam dari apa yang dilihat oleh orang lain. Junsu sadar kalau sebenarnya Changmin sangat perhatian pada Kyuhyun walaupun bossnya itu mati-matian menolak. Junsu masih ingat bagaimana Changmin sangat panik saat Kyuhyun tak pulang selama dua hari, pria tinggi itu bahkan sampai meminta polisi untuk mencari Kyuhyun yang ternyata sedang ada pekerjaan di luar kota dan lupa mengabari Changmin. Junsu juga tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahun Kyuhyun karena bossnya itu sudah menandai agendanya. Walaupun terlihat dingin dan acuh pada istrinya itu tapi sebenarnya Changmin sangat peduli pada Kyuhyun dan Junsu yakin Changmin mencintai Kyuhyun walaupun sepertinya pria itu belum sadar akan perasaannya sendiri.

“Ini berkasnya, kau ini selalu merecokiku. Cepat bawa ini kepada sajangnim” ucap Changmin sambil memberikan berkas yang baru selesai ia tandatangani kepada Junsu, Junsu sendiri mencibir melihat tingkah Changmin yang sok ngeboss.

.

.

.

.

“Selamat siang, Changminnie…”

Changmin mendongak untuk melihat tamu yang disebutkan sekretarisnya barusan, ia pikir itu adalah Kyuhyun yang akan mengantarkan makanan untuknya tetapi ternyata sosok yang berdiri di depan pintunya itu malah sosok dari masa lalunya.

“Victoria?”

Tanya Changmin bingung dengan kehadiran mantan kekasihnya itu. Setahunya Victoria saat ini menetap di New York lalu kenapa wanita berdarah China itu malah berada di dalam ruangannya?

“Kenapa sampai sekaget itu? Kau tidak mengharapkan kehadiranku?” tanya wanita itu sambil berjalan kearah meja Changmin.

“Bukankah kau sekarang tinggal di New York?”

“Aku ada kerjaan di Seoul jadi aku menyempatkan diri mengunjungimu” jawabnya sambil tersenyum.

“Ada perlu apa denganku?” tanya Changmin datar. Sejak menikah Changmin memang berusaha menjaga agar tidak ada gosip ataupun rumor yang beredar tentang dirinya, ia menjaga jarak dengan wanita-wanita yang pernah ia kenal bahkan wanita yang berhubungan dengannya karena alasan pekerjaan. Walaupun pernikahannya dan Kyuhyun berdasarkan oleh janji dan sekedar tanggung jawabnya kepada keluarga tapi Changmin masih ingat dengan sumpah pernikahannya dan ia tak akan mengingkari sumpah untuk selalu setia pada Kyuhyun dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Banyak wanita yang mencoba menggodanya tapi Changmin selalu menolak dengan alasan ia telah menikah. Changmin memang pria dengan idealisme yang tinggi, walaupun tanpa didasari cinta tapi ia tak akan mengkhianati pernikahannya dan Kyuhyun.

“Kenapa dingin sekali padaku, apa kau tak merindukanku?” tanya Victoria yang sekarang sudah duduk di depan meja Changmin, wanita itu mencondongkan tubuhnya kearah Changmin.

“Vict, aku sudah menikah”

“Lalu? Kau tak mencintainya”

Changmin menghela nafas. Victoria memang orang yang keras kepala bahkan sejak dulu mereka masih bersama.

“Aku masih mencintaimu, Changmin”

Victoria berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Changmin, ia berdiri di samping kursi yang di duduki Changmin dengan satu tangannya memegang bahu Changmin.

“Ceraikan Kyuhyun dan kembalilah padaku”

Changmin menengadahkan kepalanya untuk melihat Victoria dan hal ini dimanfaatkan wanita itu untuk mencium bibir Changmin.

.

.

.

.

Jam masih menunjukkan pukul delapan malam saat Changmin sampai ke apartemen yang ditinggalinya dengan Kyuhyun. Berbeda dengan kemarin malam dimana apartemen itu terlihat sepi dan gelap kali ini Changmin justru disambut oleh istrinya di depan pintu.

“Selamat datang” sapa Kyuhyun sambil tersenyum.

Changmin meneliti figur Kyuhyun yang sedang berdiri di depannya. Tak bisa ia pungkiri kalau pria yang menjadi istrinya itu sangat menarik. Kyuhyun sangat manis melebihi seorang perempuan sekalipun. Changmin merasa bodoh karena baru menyadari hal itu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Changmin, satu tangannya bergerak untuk mengecek suhu tubuh Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih padamu yang sudah mengurusiku semalam” jawab Kyuhyun masih dengan senyuman manisnya “Ayo masuk, aku sudah menyiapkan makanan. Kau belum makan malam kan?”

Changmin mengikuti langkah Kyuhyun yang membawanya ke ruang makan. Begitu sampai disana Changmin bisa melihat banyak sekali makanan yang tersedia diatas meja. Ia memang melewatkan makan siangnya karena kehadiran Victoria jadi sekarang ia merasa amat sangat lapar.

Kedua pria dewasa itu pun terhanyut dalam kesibukan masing-masing. Kyuhyun hanya memperhatikan Changmin yang terlihat sangat lahap sementara dirinya hanya memainkan isi yang ada di dalam piringnya.

“Min…besok…apakah kau bisa pulang lebih cepat?”

Changmin menghentikan aktivitas makannya sesaat begitu mendengar pertanyaan Kyuhyun barusan. Ia menatap wajah Kyuhyun yang terlihat memelas, tiba-tiba ia merasa tak tega untuk menolak.

“Bisa saja. Ada apa?”

Mendengar jawaban Changmin itu Kyuhyun langsung tersenyum. Senyuman manis yang membuat dada Changmin bergemuruh hebat.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau kan?”

“Baiklah” jawab Changmin, ia ingat besok adalah hari ulang tahun Kyuhyun. Ia sudah menandai agendanya.

‘Kau pasti tak ingat kalau besok adalah ulang tahunku dan satu tahun pernikahan kita’

.

.

.

.

Sesuai dengan janjinya hari ini Changmin pulang lebih cepat dari biasanya. Pukul tujuh malam ia sudah sampai di rumah dan Kyuhyun menyambut kepulangannya dengan semangat. Begitu Changmin sampai Kyuhyun yang sudah siap di depan pintu langsung menarik pria itu kearah basement. Mereka berdua pergi dengan mobil milik Kyuhyun.

“Kita akan kemana? Aku bahkan belum sempat mengganti bajuku” tanya Changmin bingung pada Kyuhyun yang sedang mengemudikan mobil.

“Maaf, kau pasti sangat lelah. Tapi, aku hanya punya waktu sampai jam dua belas malam” jawab Kyuhyun pelan. Changmin sedikit bingung dengan jawaban Kyuhyun itu tetapi ia memilih untuk diam dan tak bertanya lebih banyak.

Tak berapa lama mereka berdua pun sampai di salah satu gedung tertinggi yang ada di Seoul. Changmin hanya mengikuti Kyuhyun saat pria itu berjalan mendahuluinya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya kedua pria itu sampai di rooftop dan Changmin sangat kaget melihat sebuah meja dengan dua buah kursi yang saling berhadapan berada di tengah-tengah rooftop itu. Terlebih lagi diatas meja sudah ada cake dan dua buah gelas wine.

Happy anniversary, Shim Changmin” ucap Kyuhyun sambil menarik tangan Changmin kearah satu-satunya meja yang ada di ruangan terbuka itu. Changmin terlalu kaget dengan surprise yang diberikan Kyuhyun sampai-sampai ia kehilangan kata-kata.

Begitu mereka duduk seorang waiter berpakaian rapi langsung menghampiri meja mereka, menghidupkan lilin yang ada disana dan menuangkan wine ke gelas masing-masing.

“Sudah lama aku ingin makan malam denganmu dibawah langit berhias bintang seperti malam ini. Beruntung langit malam ini cerah”

Changmin menengadahkan kepalanya, ia bisa melihat bagaimana bintang-bintang bertaburan di langit Seoul malam ini. Padahal ini masih bulan February dan seharusnya cuaca malam ini sangat dingin tapi ia justru merasa hangat.

“Kau menyiapkan semuanya sendirian, Kyu?”

Kyuhyun tersenyum “Eunhyuk hyung membantuku”

“Harusnya aku yang memberimu surprise, aku kan suami dalam rumah tangga kita” ucap Changmin, ia merasa bersalah pada Kyuhyun karena selama ini selalu bersikap dingin pada pria manis itu.

Mendengar itu Kyuhyun justru tertawa “Bukankah karena aku yang memberi surprise jadinya lebih surprise?”

Mendengar itu Changmin pun ikut tersenyum, seakan-akan ia lupa dengan tekadnya yang tak akan jatuh cinta pada Kyuhyun. Kalau Junsu ada disana pasti pria itu akan bilang bagaimana tatapan Changmin pada Kyuhyun seperti berlumuran cinta.

Setengah jam mereka habiskan dengan makan malam, kedua bercerita dan saling bersenda gurau, melupakan kekakuan rumah tangga mereka selama ini. Changmin senang saat mengetahui kalau Kyuhyun adalah orang yang humoris begitupun dengan Kyuhyun yang baru tahu kalau ternyata Changmin punya banyak cerita untuknya.

Setelah selesai dengan makan malam yang menghilangkan kekakuan diantara mereka tiba-tiba terdengar suara dentingan piano memainkan lagu Nothing Better. Sebuah lampu sorot tiba-tiba saja menyorot ke salah satu sudut rooftop tersebut dimana seorang pria berpakaian formal duduk sambil memainkan piano.

“Ayo” Kyuhyun menarik tangan Changmin untuk berdiri dan mengajak pria itu untuk berdansa.

Dengan dipandu oleh Kyuhyun, kedua pria itu pun berdansa. Changmin yang masih sedikit kaku berusaha menyamakan gerakan Kyuhyun yang justru terlihat luwes.

“Kau sering berdansa seperti ini?” tanya Changmin penasaran.

Kyuhyun mengangguk “Umma yang mengajariku” jawabnya, tanpa sadar Changmin menghela nafas lega. Sempat khawatir kalau Kyuhyun ternyata pernah berdansa seperti ini dengan pria lain.

Dari jarak sedekat ini Changmin bisa mencium aroma tubuh Kyuhyun yang wangi, perpaduan antara vanila dan apel, manis namun menyegarkan, benar-benar seperti Kyuhyun. Changmin tersenyum. Pria tinggi itu semakin menarik tubuh Kyuhyun mendekat kepadanya. Memeluk pinggang ramping milik istrinya itu dengan posesif.

.

.

.

.

Malam sudah lumayan larut saat akhirnya Changmin dan Kyuhyun memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja Changmin yang kali ini mengemudi mendapat sebuah ide. Ia memutar steernya kearah yang berlawanan dengan arah apartemen mereka.

“Kita mau kemana?” tanya Kyuhyun bingung. Ia tau kemana arah jalan mereka tapi ia tak mau terlalu banyak berharap dulu. Tapi ternyata harapan Kyuhyun menjadi nyata saat Changmin berhenti tepat di tepi sungai Han.

Sungai Han di malam hari memang indah, lampu-lampu yang menghiasi jembatan diatasnya membuat seakan-akan ada pelangi di atas sungai kebanggaan Seoul itu.

“Indah sekali” Kyuhyun berbisik dengan mata yang tak lepas dari pemandangan indah di depannya.

Changmin sedikit melirik Kyuhyun yang berdiri di sampingnya ‘Kau terlihat lebih indah’

.

.

.

.

Dengan gerakan pelan dan berhati-hati Kyuhyun membuka pintu kamar Changmin. Sejam yang lalu mereka akhirnya sampai di rumah dan Changmin berkata ingin langsung tidur karena memang jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Kyuhyun bisa bernafas lega karena saat pintu terbuka ia bisa melihat sosok Changmin yang sudah terlelap diatas tempat tidurnya. Pria itu terlihat sangat damai dan tenang. Berbeda dengan sosok Changmin saat ia sadar.

Cukup lama Kyuhyun berdiri di sisi tempat tidur Changmin, menatapi sosok pria yang paling ia cintai itu lamat-lamat, mengingat setiap garis dan lekuk wajah Changmin seakan-akan ini adalah kali terakhir ia akan melihat pria itu. Tanpa bisa ditahan air mata jatuh membasahi pipi Kyuhyun yang pucat. Ia menangis dalam diam.

Dengan kasar Kyuhyun menghapus air matanya. Pria itu menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Changmin yang terkatup.

“Selamat tinggal, saranghae” bisiknya sambil menahan isakan tangis yang hampir keluar. Sebelum berjalan meninggalkan kamar itu Kyuhyun meletakkan sebuah kertas diatas meja yang ada di samping tempat tidur Changmin. Kertas dengan judul ‘Permohonan Cerai’ yang sudah di tanda tangani oleh Shim Kyuhyun.

.

.

.

.

.

To be continue

 

One thought on “His Last Vow – Part 1

  1. Wahhh pdhl changmin dah mlai jatuh cinta sma kyuhyun…tp skrng kyuhyun’a mau ninggalin changmin
    Apa kyuhyun ngeliat pas changmin d cium sma si nenek lampir (read : victoria)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s