Us Against The World-1st Chapter

Chapter 1

Twins

 

PLAK

Sebuah tamparan kuat mendarat di pipi putih sedikit chubby milik seorang pria yang saat ini tengah dikepung oleh beberapa pria berbaju hitam dan seorang wanita berbaju merah yang baru saja melayangkan tamparan di pipinya tersebut.

Pria itu tidak bergeming sedikitpun setelah ditampar sedemikian rupa dan ternyata hal ini membuat si wanita yang baru saja memukulnya merasa tidak dihiraukan. Wanita itupun kembali menampar pipi si pria berkulit putih, kali ini tepat di pipi kirinya.

“Kau pria jalang! Berani-beraninya kau mendekati suamiku! Homo menjijikkan!”

Jerit wanita itu dengan kuat. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya yang kurus semampai.

Si pria yang dihina seperti itu sekarang malah terlihat sedang tersenyum. Dengan kedua tangan di dalam saku celananya pria itu balas menatap sang penamparnya. Baiklah, wanita ini sebenarnya lumayan cantik, tubuhnya tinggi semampai kulitnya pun sangat putih, kontras sekali dengan gaun merah mini yang tengah dipakainya saat ini, rambut wavynya yang berwarna cokelat tua ia biarkan tergerai sampai menutupi punggungnya, make-up tipis semakin mempercantik wajahnya yang diduga masih berusia tiga puluhan tahun tersebut.

“Nona…maaf anda tak boleh membuat keributan di dalam bar ini”

Seorang pria tiba-tiba menyela pertengkaran yang hampir memuncak tersebut. Ia adalah pemilik bar S.P.Y dimana saat ini mereka sedang membuat keributan disana. Pria itu memiliki lesung pipi di kedua pipinya yang tirus.

“Kalian semua homo menjijikkan! Perebut suami orang!”

Wanita berbaju merah tersebut semakin mengamuk saat tangan si pemilik bar berusaha menahan tamparan yang akan ia layangkan ke pria yang ada di depannya itu.

“Bukan salahku kan kalau suamimu lebih memilihku, memilih tubuhku daripada tubuhmu yang terlalu banyak dipermak”

Tiba-tiba si pria yang sejak tadi diam saja setelah ditampar dua kali oleh wanita bergaun merah itu mengeluarkan suara.

“Kyu!”

Si pemilik bar memanggil nama pria tersebut, berusaha membuat pria itu diam dan tak semakin memperkeruh suasana.

“Ada apa Jungsu hyung? Kau sendiri juga lihat kan bagaimana suaminya merayuku dan mengajakku bercinta setiap malamnya?”

Ucap pria yang dipanggil Kyu itu dengan lantang. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan wanita di depannya yang terlihat seperti ingin menguburnya hidup-hidup.

“Dengarkan aku, n0na…suamimu lah yang memohon-mohon padaku untuk memuaskan dirinya. Bukan salahku kalau kau tak sanggup memenuhi kebutuhan biologis suamimu”

“KAU!”

Jerit wanita berbaju merah itu, sebuah tamparan nyaris mengenai pipi pucat milik pria dengan panggilan Kyu tersebut tetapi kali ini tangan kurus yang ternyata bertenaga kuda itu tertahan oleh sebuah cekalan di pergelangan tangannya.

“Aku sudah membiarkanmu menamparku dua kali dan kurasa itu cukup”

Desis pria bertubuh tinggi dan berpipi  chubby itu, matanya menatap tajam kearah manik mata sang wanita bergaun merah sementara satu tangannya menahan pergelangan tangan kurus milik wanita itu di udara.

“Yah! Apa yang kalian lihat! Pria sialan ini menyakitiku, cepat hajar dia!”

Suruh wanita tersebut kepada para cecunguk-cecunguknya yang malah diam menonton saat nyonya nya dipermalukan di depan umum oleh seorang pria yang ia tuduh sebagai simpanan suaminya. Ketiga pria bertubuh besar namun berotak kecil tersebut pun mulai bergerak untuk menghajar pria bernama Kyu itu namun belum sampai mereka memegang sehelai rambut pun milik sang pria itu tubuh-tubuh besar mereka langsung dihadang oleh beberapa pria berpakaian formil dan bertubuh tak kalah besar dari mereka.

“Maaf tapi aku benar-benar tak suka ada keributan di dalam bar ku. Kumohon anda segera keluar dari sini sebelum aku terpaksa menendang kalian dari sini”

Jungsu, pria berlesung pipi yang tadi mencoba melerai pertengkaran tersebut rupanya sudah memanggil anggota security nya karena dirasanya pertengakaran ini tak akan kunjung selesai seperti yang ia harapkan. Tentu saja bar sebesar S.P.Y tak mungkin tidak memiliki anggota keamanan yang hebat dan bukan masalah baginya mengeluarkan satu-dua bahkan sepuluh orang pengacau dari barnya.

Dengan paksa tubuh-tubuh yang tadinya mengerubungi pria manis bernama Kyu itu pun diseret keluar dari dalam bar, tidak terkecuali sang wanita bergaun merah.

“Kyuhyun! Aku belum selesai denganmu! Ingat itu!”

Jerit wanita itu tepat sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dibalik pintu. Sementara pria bernama Kyuhyun yang menjadi objek amarahnya tersebut hanya membalas jeritan penuh kebencian itu dengan sebuah seringai.

“Kyuhyunnie…kau selalu saja mencari masalah”

Ucap Jungsu setelah kehebohan mereda dan masing-masing dari pekerja juga pengunjung di bar tersebut kembali dalam kesibukannya masing-masing, meninggalkan Kyuhyun dan Jungsu yang saat ini duduk di salah satu sudut bar.

“Aku tak mencari masalah, hyung. Wanita itu yang duluan menampar dan memakiku, kau kan lihat sendiri kalau aku hanya diam saja padahal dia menamparku dua kali!”

Jawab Kyuhyun tak terima dirinya disalahkan begitu saja. Satu tangannya saat ini tengah mengompres pipinya yang memerah bekas tamparan wanita tadi dengan kain dingin yang sudah disediakan Jungsu untuknya.

“Berhentilah bermain-main seperti itu…”

Kali ini Jungsu mengatakan kalimat tersebut dengan intonasi yang lebih serius, berharap pria keras kepala bernama Kyuhyun yang saat ini sedang berada di depannya akan mau mendengarkannya.

Sementara Kyuhyun hanya diam, ia sadar betul alasan Jungsu menyuruhnya menyudahi ‘permainan’ yang ia lakukan ini. Kyuhyun senang dengan permainan yang berbahaya, hidup sebatang kara membuat pria berusia delapan belas tahun itu tidak kenal takut. Sejak ia keluar dari panti asuhan dua tahun yang lalu Kyuhyun memang menghidupi dirinya sendiri tetapi tidak dengan cara yang semestinya. Sudah setahun ia bekerja sebagai aktor film porno, bukan film porno pada umumnya tetapi film porno sesama jenis alias gay porn. Awalnya Kyuhyun yang saat itu tidak tau harus mencari uang darimana bertemu dengan seorang produser film porno bernama Kangin atau Kim Youngwoon yang juga kekasih dari Park Jungsu, pria itu menawarkan sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar dan Kyuhyun yang muda dan butuh uang akhirnya menyanggupi tawaran tersebut. Awalnya Kyuhyun melakukan pekerjaannya atas dasar kebutuhan, ia butuh uang untuk hidup tetapi lama kelamaan Kyuhyun justru merasa ketagihan, ia senang dengan pekerjaannya-ia menyukai sex. Dan sejak enam bulan belakangan ini ia menerima panggilan dari orang-orang kaya yang menginginkan servisnya. Suami dari wanita yang barusan menamparnya itupun termasuk salah satu pria kaya yang sering menyewa dirinya, bisa dibilang pria itu juga yang membiayai hidupnya saat ini tetapi bukan uang alasan sebenarnya Kyuhyun menjual dirinya kepada pria-pria hidung belang melainkan karena kebutuhannya akan sex dan kesenangannya dengan permainan yang menurutnya menantang.

“Kangin sudah menceritakan semuanya padaku, kau sudah berhenti kan jadi aktor? Kenapa sekarang kau memilih hidup seperti ini? Aku tak ingin melihatmu terus-terusan diteror dan dikejar-kejar orang, Kyu…”

Ucap Jungsu, tak habis pikir dengan cara berpikir Kyuhyun yang menurutnya tidak biasa.

Bisa dibilang Kyuhyun adalah salah satu aktor gay porn yang paling terkenal se-Asia. Dirinya sudah membintangi lebih dari tiga puluh judul film porno dan uang yang ia hasilkan dari seluruh kerja kerasnya itu juga tak sedikit lalu kenapa Kyuhyun justru memilih hidup berbahaya seperti sekarang ini? Ini bukan kali pertama seorang wanita mengaku kalau suaminya direbut oleh Kyuhyun, bahkan menurut Jungsu kasus kali ini tak lebih berbahaya daripada kasus-kasus sebelumnya dimana Kyuhyun sampai diculik dan hampir dibunuh oleh istri-istri dari pria-pria yang pernah bermain-main dengannya.

Sudah entah berapa kali Jungsu mengatakan hal yang sama pada Kyuhyun dan berkali-kali pula perkataan Jungsu tersebut hanya dianggap angin lalu oleh pria manis itu, seperti kali ini. Jungsu tau kalau Kyuhyun tak menganggap serius kata-katanya barusan dan ia hanya bisa menghela nafas untuk kesekian kalinya, menghadapi pria yang telah ia anggap sebagai dongsaeng ini memang tak gampang, bukan hanya keras kepala, Kyuhyun juga keras hatinya.

“Tenanglah hyung, aku bisa menjaga diriku”

Ucap Kyuhyun, ia meletakkan handuk kecil yang sejak tadi ia gunakan untuk mengompres pipinya yang memerah ke dalam mangkuk berisi air dingin di depan Jungsu.

“Paling tidak aku tak akan membiarkan diriku mati dengan mudah”

Lanjut Kyuhyun sambil bangkit berdiri dari duduknya.

“Kau mau kemana, Kyu?”

Tanya Jungsu bingung saat Kyuhyun terlihat sudah bersiap akan pergi. Pria manis itu merapikan bajunya-sweater biru tua berkerah lebar yang memamerkan bahu putih mulusnya ditambah skin tight trousers berbahan kulit dan sepatu boot hitam-dan mulai memasukkan hp dan dompetnya kedalam tas tangan hitamnya.

“Malam masih muda, hyung…aku ingin bersenang-senang. Sampaikan salamku pada Kangin hyung”

Jawab Kyuhyun santai dan tanpa menunggu jawaban dari Jungsu tubuh langsingnya langsung berjalan menerobos kerumunan orang yang sedang berdansa di tengah lantai dansa dan menghilang begitu saja dari pandangan Jungsu.

“Kuharap kau akan menemukan seseorang yang bisa mengubahmu, Kyu…”

Bisik Jungsu, iapun merapikan mangkuk dan handuk kecil bekas Kyuhyun tadi dan berjalan kearah bar sambil menyapa beberapa pelanggan tetap barnya.

.

.

.

.

.

Tak susah bagi Kyuhyun mencari teman ‘bermain’ buktinya saat ini pria bertubuh tinggi dan langsing itu tengah berada di salah satu sudut sebuah bar bersama seorang pria yang bertubuh lebih besar darinya. Tubuhnya menempel di dinding dingin bar sementara pria ‘teman mainnya’ itu tengah setengah memeluk dirinya, wajah pria itu tengah bertengger dengan manis di ceruk leher Kyuhyun, sedikit menciumi leher putih milik Kyuhyun.

“Mmm…”

Desah Kyuhyun pelan saat tangan besar pria yang tengah memeluknya itu mulai nakal dan menelusup masuk kedalam sweaternya, meraba perut ratanya dengan gerakan memutar.

Tak puas hanya menciumi leher Kyuhyun, pria itu pun mulai bergerak turun dan menciumi bahu Kyuhyun yang terbuka.

“Ah…jangan tinggalkan bekas…”

Ucap Kyuhyun disela desahannya. Ia tentu tak mau Seunghyun-pria yang dua bulan ini tengah dikencaninya sekaligus suami dari wanita berbaju merah yang tadi melabraknya-melihat ada tanda orang lain ditubuhnya, Kyuhyun tau betul pria dingin itu sangat benci melihat benda miliknya disentuh orang lain, dalam hal ini benda milik Seunghyun adalah Kyuhyun dan Seunghyun sangat posessif terhadapnya.

 “Kau takut pacarmu tau?”

Tanya pria yang baru tiga puluh menit lalu berkenalan dengannya, kalau Kyuhyun tak salah dengar pria itu bernama Taecyeon.

“Tenang saja, aku tak akan meninggalkan bekas…”

Sambung Taecyeon tanpa menunggu jawaban Kyuhyun. Ia kembali menciumi bahu Kyuhyun sembari tangannya mulai bergerak naik kearah dada Kyuhyun, ibu jarinya mengelus nipple Kyuhyun yang sudah mulai mengeras.

“Nngh…aah…”

Kyuhyun mendesah-desah kuat di telinga Taecyeon, dengan sengaja Kyuhyun menggesek-gesekkan tubuh bagian bawahnya dengan Taecyeon, menciptakan friksi yang membuat pria didepannya semakin menggila. Kyuhyun benar-benar tau bagaimana cara membuat pria bertekuk lutut padanya.

“Kau sangat menggoda, Kyu…aku tak sabar ingin merasukimu…”

Bisik Taecyeon sambil menahan desahannya. Seringai muncul di wajah Kyuhyun saat tangan besar milik Taecyeon menarik pergelangan tangannya, mengajaknya naik ke lantai dua.

Malam masih muda bagi Kyuhyun dan permainannya baru saja dimulai.

.

.

.

.

.

“Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”

Tanya wanita dengan seragam pramugari itu sopan kepada pria muda yang tadi membunyikan bel. Pria muda berwajah tampan diatas rata-rata itu tersenyum mendengar sapaan sopan barusan.

“Bisa tolong bawakan aku selimut?”

Pramugari itu pun mengangguk sebelum berlalu untuk mengambil pesanan si pria muda tersebut. Wajahnya sedikit tersipu karena baru saja ia dan beberapa pramugari lainnya membicarakan pria tinggi berwajah tampan mirip anggota boyband terkenal TVXQ di tempat istirahat dan tiba-tiba saja pria yang dibicarakan malah membunyikan bel.

Pria muda itu menatap langit malam yang tampak dibalik jendela pesawat yang sedang ia tumpangi, perjalanan 14 jam dari New York ke Seoul itu benar-benar membuatnya bosan. Tetapi ia punya alasan khusus untuk pergi ke kota kelahiran kedua orang tuanya tersebut. Ia harus menemukannya. Bagian dari dirinya yang telah hilang selama bertahun-tahun. Seseorang yang merupakan belahan jiwanya namun tak pernah sekalipun ia temui.

Tanpa sadar pria muda itu meremas handrest yang berada disamping tubuhnya. Tiap kali ia ingat apa yang terjadi pada dirinya dan seseorang yang harusnya menjadi bagian dari dirinya itu ia pasti merasakan kemarahan dan kebencian yang begitu besar, kepada kedua orang tuanya, keluarga besarnya dan dunia yang begitu kejam karena memisahkan dirinya dari seseorang itu.

“Tuan…ini selimut yang anda minta”

Sapaan lembut pramugari yang tadi ia mintai tolong membuyarkan lamunan sesaat pria muda tersebut. Dengan sopan iapun menoleh dan berterima kasih kepada wanita yang saat ini tampak sedikit tersipu itu.

“Aku akan menemukanmu, hyung”

Bisik Jung Changmin sebelum akhirnya ia terlelap sambil memegang sebuah cincin kecil diantara jemari panjangnya.

.

.

.

.

.

Kegaduhan terdengar di dalam mansion besar milik keluarga Jung, seorang pria manis berusia sekitar 40an terlihat panik sambil berlari mengelilingi rumah besarnya.

“Changmin!”

Jeritnya sambil tangannya membuka pintu mahogany berukir itu dengan terlalu terburu-buru, pada maid yang berada di belakang sang majikan tampak tak bisa berbuat apa-apa menghadapi sang ‘nyonya’ rumah.

Mata bulat dan indah itu semakin membulat saat dirinya tak menemukan sosok sang anak kesayangan di dalam kamar berukuran 12 x 12 meter itu. Tempat tidur berukuran king size yang terletak di tengah-tengah kamar tampak rapi seperti tak pernah ditiduri oleh pemiliknya.

Dengan sedikit berlari pria itupun berjalan kearah walk-in closet milik sang anak, tangannya membuka pintu walk-in closet tersebut dengan cepat dan lagi-lagi mata besarnya membulat kaget saat mendapati banyak baju yang ia ingat selalu tergantung rapi disana sudah lenyap, meninggalkan hanya beberapa baju formil dan seragam putih biru khas Le Rosey Institute, sekolah prestisius dimana anak kesayangannya menempa ilmu.

“Tuan Jaejoong…dari rekaman cctv yang ada di halaman depan kami mendapatkan gambar tuan muda Changmin dan Kibum-shii pergi sekitar pukul dua belas malam”

Salah satu pria berseragam mendatangi Jaejoong-sang pemilik rumah dengan tergesa-gesa. Tampaknya ia juga baru saja diperintahkan sang majikan untuk mencari tuan mudanya.

“Dengan Kibum? Mereka naik apa?”

Tanya Jaejoong lagi. Ia benar-benar panik sekarang, terlebih lagi saat ini sang suami-Jung Yunho juga sedang tak berada di rumah sejak dua hari yang lalu, pria yang ia nikahi dua puluh tahun lalu itu sedang ada pertemuan penting di Berlin dan ia tentu tak bisa mengganggu sang suami dengan laporan kalau anak mereka satu-satunya baru saja kabur dari rumah.

“Dengan taxi, tuan”

Jaejoong meremas ujung kemeja putih yang tengah ia kenakan. Tentu saja Changmin bukan anak bodoh, ia tak mungkin kabur dengan mobil Bugatti Veyron kesayangannya yang sudah dipasangi alat pelacak oleh sang ayah, membuatnya bisa dilacak dimana saja ia berada.

Tiba-tiba Jaejoong teringat sesuatu, pertengkaran Yunho dan anaknya seminggu lalu, saat Changmin baru saja pulang dari Le Rosey untuk berlibur sekaligus merayakan natal bersama. Keinginan Changmin yang membuat Yunho benar-benar marah sampai berani melayangkan pukulan ke wajah anak kesayangannya.

“Cepat hubungi pihak JFK dan cari tau apakah pria bernama Jung Changmin melakukan penerbangan dari sana, cari tau juga jam dan tujuan keberangkatannya!”

Instruksi Jaejoong kepada pria berseragam yang tadi ia suruh untuk mencari Changmin. Pria itu mengangguk paham lalu berlalu cepat dari hadapan Jaejoong.

Setelah tubuh pengurus rumahnya itu menghilang dibalik pintu kamar Changmin, tubuh Jaejoong melemas dan ia langsung jatuh terduduk di lantai. Para maid yang sejak tadi hanya bisa memperhatikan saat tuan rumah mereka panik berlarian kesana-kemari langsung berhambur, mencoba membantu sang tuan rumah untuk kembali berdiri.

“Apa yang kau lakukan, Changminnie…”

Bisik Jaejoong lemah.

.

.

.

.

.

Yunho menatap sang istri yang tak henti-hentinya menangis sejak mereka pulang dari pesta penyambutan si kembar Jung Kyuhyun dan Jung Changmin, buah cintanya dan Jaejoong, ia sudah bertanya pada Junsu yang saat itu bersama istrinya namun Junsu juga tampak bingung dengan keadaan sang sepupu yang terus menangis sambil mendekap kedua bayi kembarnya dengan erat, seakan-akan jika ia lengah sebentar saja kedua bayi itu akan lenyap dari pandangannya.

“Boo…ada apa denganmu? Kenapa kau menangis seperti ini?”

Jaejoong yang mendengar pertanyaan Yunho hanya diam, kedua tangannya masih menggenggam erat jemari-jemari mungil milik Kyuhyun dan Changmin yang saat ini sudah berada di dalam baby bed mereka, tertidur dengan lelap.

Perlahan Yunho beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan kearah Jaejoong yang tengah duduk diatas ranjang mereka. Posisi baby bed yang berada tepat di sisi tempat tidur milik YunJae memungkinkan Jaejoong untuk duduk sambil memperhatikan kedua bayinya.

“Jaejoongie…”

Dengan pelan dan lembut Yunho mengusap air mata yang sudah membasahi pipi Jaejoong. Ia sungguh tak sanggup kalau harus melihat Jaejoong menangis dalam diam seperti ini lebih lama.

“Aku mencintai mereka, Yun”

Ucap Jaejoong disela tangisnya. Yunho mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jaejoong. Tentu saja ia juga sangat mencintai kedua bayi kembar mereka itu.

“Aku tak mau melepaskan mereka”

Yunho semakin bingung mendengar kalimat-kalimat ambigu yang keluar dari mulut istri cantiknya itu.

“Apa maksudmu, Jae? Kita tak akan meninggalkan mereka”

Pria bermata musang itupun langsung memeluk tubuh istrinya, berusaha menghentikan kalimat-kalimat aneh yang terus keluar dari pria pemilik wajah tercantik di dunia itu.

Jaejoong menggeleng. Ia tak boleh memberitahu soal gypsi itu kepada Yunho.

Tangan besar Yunho bergerak untuk mengelus pelan punggung Jaejoong yang masih bergetar, ia tahu kalau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu tapi pria tampan itu tak ingin menambah beban sang istri dengan menanyainya terus menerut, Yunho yakin akan ada saatnya sang istri akan jujur padanya.

“Sebaiknya kita segera tidur, Jae…kau terlihat sangat lelah”

Yunho membujuk pria yang sangat dicintainya itu untuk segera tidur. Keduanya pun berbaring diatas tempat tidur berukuran king size dengan nuansa baroque yang ada di dalam kamar pasangan YunJae. Sebelum benar-benar tidur kembali Jaejoong memperhatikan baby bed yang berada tepat di samping tempat tidurnya, pria cantik itu berusaha meyakinkan dirinya kalau kedua bayi mereka akan baik-baik saja.

Perlahan Jaejoong pun terlelap dalam pelukan Yunho, begitupun dengan Yunho yang saat ini tengah memeluk Jaejoong dengan possessive.

‘cring…cring’

“Fate is never fair. You are caught in a current much stronger than you are; struggle against it and you’ll drown not just yourself but those who try to save you”

.

.

.

Wanita itu berlari dan terus berlari kedalam pekatnya malam, tak perduli dengan kakinya yang tak beralaskan apapun, tak juga perduli dengan apa yang ada di depannya. Yang paling penting baginya saat ini adalah bagaimana menghindari sosok yang sedang mengejarnya saat ini, sosok yang berusaha untuk membunuhnya.

Nafasnya terengah, kakinya hampir tak lagi mampu untuk berlari lebih jauh. Tubuhnya menolak untuk mengikuti kata-kata di dalam kepalanya dan memilih untuk menyerah, tubuhnya terjatuh ke tanah, terlalu lelah untuk bergerak lebih.

Sesayup ia bisa mendengar derap-derap kaki kuda berlari menuju kearahnya. Apakah ini akhir dari pelariannya? Apakah ia akan tertangkap begitu saja dan menerima hukuman atas kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan? Mencintai seorang pangeran.

“Aku melihatnya!”

Sebuah suara membuatnya kembali tersadar. Suara nyaring yang perlahan semakin mendekat kearahnya.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya yang tersungkur di tanah, menarik kaki-kaki lemahnya untuk berdiri.

“Berdiri kau penyihir!”

Pria yang menariknya berteriak tepat di depan wajah yang terlihat pucat dan kehilangan nyawanya itu.

“Ayo cepat kita bawa penyihir itu kembali ke istana, perempuan itu harus dihukum atas apa yang telah ia perbuat!”

Tubuh kurus itu tak lagi mampu menolak tarikan tangan-tangan kuat yang berhasil menahan tubuhnya. Ia tak sanggup untuk sekedar memberontak dan akhirnya wanita itu menyerahkan dirinya begitu saja pada pria-pria yang sejak semalam terus mengejarnya.

Ia tak ingat kapan terakhir kali matanya terbuka, ia juga tak ingat kapan terakhir kali ia melihat matahari, yang pasti saat matanya terbuka kali ini sosok pria yang selama ini dicintainya dengan seluruh hatinya itu telah duduk diatas singgasananya, menatap kearahnya dengan tak berperasaan.

Wanita itu saat ini sedang dalam posisi berlutut ditengah-tengah halaman istana, kedua tangannya terentang dengan ujung-ujung yang terikat pada seekor sapi berukuran sangat besar, ia tahu sesaat lagi eksekusinya akan dilaksanakan dan ia tak punya kekuatan untuk menolak hal tersebut untuk terjadi.

Panas matahari seakan-akan memanggang kulit tubuhnya, ia yang hanya mengenakan hanbok tipis berwarna putih. Wajahnya penuh dengan luka, begitupun seluruh tubuhnya. Kedua kakinya terikat pada sebuah batu besar dan berat, membuatnya tak mungkin untuk bergerak.

“Kau boleh mengucapkan kata-kata terakhirmu”

Seru seorang pria tua yang duduk di singgasana tepat di sebelah pria yang sampai detik ini masih ia cintai. Pria tua itu adalah raja yang berkuasa di negara tersebut sekaligus ayah dari pria yang ia cintai.

Wanita itu membuka matanya yang terasa berat, ia berusaha mencari kedua bola mata sang kekasih yang saat ini justru menghiraukannya, pria itu bahkan tak sudi untuk melihatnya lagi.

Hati sang wanita hancur berkeping-keping saat menyadari sosok pria pujaannya ternyata tak lebih dari seorang pecundang yang berlindung dibalik sosok ayahnya. Tubuhnya penuh luka tapi semua itu tak sebanding dengan luka dihatinya. Sampai sedetik yang lalu ia masih berharap pria itu akan melindunginya, melindungi cinta mereka namun ternyata pria itu justru meninggalkannya begitu saja.

Kecewa dan marah iapun mengucapkan sumpahnya.

“Akan tiba waktunya dua bayi kembar lahir di keluarga Jung dan jika hari itu tiba maka seluruh kebahagiaan kalian akan berganti dengan kesedihan juga kesengsaraan. Aku berjanji tak akan benar-benar mati hingga hari itu tiba!”

“Wanita hina! Cepat lakukan eksekusinya!”

Sang raja yang murka pun mengeluarkan titahnya. Kedua sapi dicambuk dan bergerak berlainan arah, menarik tubuh sang wanita muda dengan sangat kuat.

“Aku bersumpah!”

Jeritnya dengan sangat kuat saat otot-otot didalam tubuhnya seperti terbelah dua. Mata besarnya menatap nyalang kearah pria yang sampai saat ini masih menghindari tatapannya.

“Kalian akan hancur!”

.

.

.

To be continue

a/n : lotsa love untuk semua reader yang udah bersedia membaca dan juga meninggalkan comment yang membuat saya bersemangat untuk melanjutkan tulisan saya^^ I’ll try to update more in the future.

HAPPY 10th Anniversary TVXQ! Always Keep The Faith^^ 

13 thoughts on “Us Against The World-1st Chapter

  1. Ternyata kyu yang dibuang ya..
    suka sama karakter kyu yang ‘liar’ begini. hehe
    berarti changkyu itu keturunan raja kah? apa aku yang salah pengertian..
    ditunggu next chapnya ^_^

  2. Aaaaa akhirnya update jg … udah nunggu bgt ff ini di lanjut …. chwangkyu udah gede ya dan kyu jd pelacur omg … nanti gmn perasaan chwang pas tau itu … ternyata kutukannya karna itu …. cpt lanjut thor g sabar sama lanjutannya.

  3. Kyaaa! Sumpah aku gak tega ma Kyuchan yg jadi kayak gitu, dunia kejam bgt! ><
    Akhirnya Kyuchan yg dibuang, tapi Chwang tau ya kalo dia punya saudara kembar…
    Duh…konfliknya mantep, terus terus ini bakalan gimana coba?
    Miris bgt ma nasibnya Kyuchan T_T
    Sepertinya akan banyak flashback, ya..
    Semangat berkarya author-nim!

  4. Aish…!! Gara2 nenek moyangx, changkyu yg mesti nanggung akibatx…! Seandaix si pangeran natap cwe itu dengan pnuh cinta atau apa, mungkin gk bkal dikutuk.. -_-
    Kasian jdi kyu yg mesti dibuang… Kyu yg berubah jdi WildKyu haha
    Ditunggu updateanx author-ssi, fighting!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s