Us Against The World – Interlude

Us Against The World

-interlude-

Summary :

Kyuhyun dan Changmin adalah anak kembar yang lahir dari pasangan Jung Yunho dengan Jung-Kim-Jaejoong. 18 tahun silam seorang gypsi mengatakan pada Jaejoong kalau kedua bayi kembar itu tak boleh dibiarkan bersama, mereka harus dipisahkan atau keluarga Jung akan hancur karena mereka “Kedua bayi ini memiliki takdir yang sangat tragis, mereka tak boleh dibiarkan bersama. Kalau kau ingin keluargamu selamat, pisahkan mereka”

Tetapi takdir memang tak bisa di elakkan. 18 tahun kemudian kedua saudara kandung itupun bertemu dalam sebuah pertemuan yang tak biasa. Lalu bagaimana dengan ramalan gypsi yang pernah bertemu dengan Jaejoong tentang kehancuran keluarga Jung saat kedua saudara kembar itu akhirnya bersatu?

-a ChangKyu and Yunjae fanfiction-

.

.

.

.

.

(18 years ago)

Oeek…oeek…oeek…

Suara tangisan dua bayi terdengar saling bersahutan, menggema di dalam kamar bersalin VIP yang ada di New York Hospital, Upper East Side-New York City. Seorang pria berusia sekitar 25 tahunan langsung berdiri dari duduknya di depan ruang bersalin tersebut begitu mendengar tangisan kedua putra kembarnya. Pria muda itu terlihat masih memakai setelan Ermenegildo Zegna lengkap berwarna abu-abu tua, tampaknya baru saja pulang ataupun mungkin dengan sengaja membatalkan sebuah meeting penting demi kelahiran kedua putra kembarnya tersebut. Anak pertamanya dengan Jejoong-sang istri.

Tangan pria tersebut mendadak dingin saat pintu bersalin perlahan terbuka. Dari dalam ruangan tersebut keluarlah seorang dokter yang terlihat sudah senior, ia masih mengenakan baju khusus operasi yang berwarna hijau muda.

“Dokter…bagaimana anak saya? Bagaimana dengan istri saya?”

Tanya pria tersebut tak sabaran. Dadanya bergemuruh menunggu jawaban dari sang dokter.

Dokter senior itu tersenyum, ini adalah reaksi yang biasa dihadapinya dari seorang calon ayah muda. Ia merasa sungguh senang bisa berbagi kebahagiaan ini dengan banyak orang. Terutama pria berwajah Asia di depannya ini.

“Selamat tuan Jung…kedua putra anda terlahir sehat, begitu juga dengan istri anda. Mereka bertiga dalam keadaan baik”

Jawab sang dokter. Jung Yunho-sang ayah- langsung menghela nafas lega, ia sendiri tak sadar sejak kapan ia menahan nafas.

“Anda bisa melihat keadaan mereka setelah istri anda kami pindahkan ke ruang rawat. Sekali lagi, selamat untuk kelahiran anak anda”

Ucap sang dokter sambil menjabat tangan Yunho. Yunho membalas jabatan itu dengan sangat semangat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berterima kasih karena sang dokter yang sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik, membantu persalinan Jaejoong-istrinya.

Hari itu, tanggal 3 February, dua bayi kembar kebanggaannya terlahir ke dunia. Yunho merasa hidupnya akhirnya telah sempurna.

.

.

.

Perlahan Yunho membuka pintu ruang rawat VIP yang sengaja ia pesan jauh-jauh hari untuk sang istri. Memang untuk bisa mendapatkan satu ruang di rumah sakit yang terbilang mewah tersebut kita harus terlebih dahulu membuat reservasi dan tentu saja reservasinya pun dalam jumlah terbatas.

“Yunnie…”

Panggil Jaejoong, wajahnya terlihat ceria dan disamping tempat tidurnya telah ada dua buah baby bed berwarna biru dan diatasnya tengah tertidur dua bayi mungil mereka yang baru saja lahir.

Yunho berjalan kearah tempat tidur milik Jaejoong, ia menundukkan wajahnya untuk mengecup kening sang istri dengan penuh sayang. Cukup lama ia mengecup kening indah tersebut, menyalurkan semua rasa bahagia, cinta dan perasaan penuh syukur yang terus-terusan mengisi hatinya selama 9 bulan belakangan ini.

“Terima kasih untuk semuanya booJae…terima kasih karena telah melahirkan bayi kembar kita dengan selamat dan terima kasih karena tetap berada di sisiku”

Ucap Yunho, tangannya memeluk bahu sang istri dengan erat. Jaejoong hanya tersenyum mendengar kalimat-kalimat yang teruntai dari bibir suami tercintanya.

“I love you…and always will”

Yunho berbisik, iapun langsung mengeliminasi jarak antara mereka dengan mengecup penuh sayang bibir merah ranum milik Jaejoong. Jaejoong hanya bisa menerima ciuman penuh cinta dari sang suami sambil memeluk lengan Yunho yang masih setia memegang bahunya. Jaejoong merasa sangat bahagia. Ia merasa fulfilled.

Setelah puas menunjukkan rasa cintanya pada sang istri, Yunho pun beralih untuk melihat keadaan dua putra kebanggaannya yang saat ini masih tertidur. Kedua bayi laki-laki tersebut walaupun kembar tetapi terlihat jauh berbeda. Salah satu dari mereka memiliki tubuh yang lebih panjang serta kulit yang lebih gelap persis dirinya sementara bayi yang satu lagi lebih mirip Jaejoong dengan kulit yang seputih dan selembut kapas serta kedua mata bulat yang indah.

Yunho seperti kehilangan kata-kata saat tangan besarnya bisa menyentuh jari-jari mungil putra kembarnya tersebut. Mulutnya terkunci rapat namun senyum tak henti-hentinya terukir di wajah tampannya. Senyum bangga yang penuh dengan cinta.

“Tangan mereka sangat kecil”

Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Yunho setelah berdiri mematung di tempatnya selama kurang lebih lima menit. Jaejoong sedikit tertawa mendengar kata-kata pertama sang suami. Mungkin karena terlalu bahagia Yunho jadi tak bisa mensinkronkan mulut dan otaknya.

Jaejoong memperhatikan sosok suaminya yang sejak mengetahui kehamilannya sembilan bulan lalu menjadi semakin glowing-bercahaya. Yunho yang dulu seorang workaholic akut yang jam kerjanya dua puluh empat jam sehari berubah menjadi seorang bapak keluarga yang pergi ke kantor jam delapan pagi dan pulang sebelum jam lima sore. Bahkan saat makan siang pun Yunho menyempatkan diri untuk pulang ataupun mengunjungi Jaejoong di boutique merangkap kantornya. Jaejoong memang seorang designer, sejak lulus dari Parson empat tahun yang lalu ia sudah menggeluti dunia fashion dan bahkan memiliki clothing line nya sendiri. Berbeda dari sang suami yang Jaejoong sebut tidak memiliki sense of art sama sekali-dirinya adalah seorang artist sejati. Ia sangat menyukai keindahan, dan Jaejoong sudah memiliki niat sejak kandungannya masih berusia lima minggu kalau nantinya kedua putra kembarnya tersebut tak boleh kalah fashionable dari Suri Cruise ataupun Harper Seven Beckham. Yunho tentu tak perlu tau soal ini, karena bisa-bisa Jaejoong diceramahi panjang lebar oleh sang suami yang memang sedikit idealis tersebut.

“Kyuhyun dan Changmin”

Ucapan Yunho tersebut menginterupsi lamunan sesaat Jaejoong. Jaejoong menatap Yunho yang sekarang sudah duduk di samping baby bed dengan kedua tangannya yang memegang masing-masing satu tangan mungil dari bayi kembarnya tersebut.

“Sang kakak kita beri nama Kyuhyun dan adiknya kita beri nama Changmin. Bagaimana menurutmu, Jae?”

Tanya Yunho, ia beralih untuk menatap Jaejoong sesaat. Menanyakan pendapat pria cantik tersebut akan nama yang ia pilih barusan.

Senyuman manis menghiasi wajah istrinya, membuat Yunho lagi-lagi jatuh cinta untuk yang berkali-kalinya. Jaejoong pun mengangguk.

“Welcome to the family…Jung Kyuhyun and Jung Changmin”

Bisik Yunho sambil mengecup dahi mungil itu bergantian.

.

.

.

“Knowing too much of your future is never a good thing”

-Rick Riordan-

Sebulan sejak kelahiran putra kembar dari Jung Yunho dan Jung Jaejoong sebuah pesta dirayakan untuk menyambut kehadiran keduanya di keluarga besar Jung, keluarga yang tidak hanya sukses di negara asalnya Korea Selatan tetapi juga sudah sukses berekspansi sampai ke Amerika. Semua orang menyambut bahagia kelahiran putra kembar milyuner muda asal Korea Selatan tersebut, sekitar seribu orang hadir dalam pesta tersebut, termasuk dari mereka adalah kerabat serta relasi dari keduanya.

“Selamat ya, hyung!”

Seru Kim Junsu-sepupu Jaejoong dengan suara khasnya.

Jaejoong memeluk saudara sepupunya tersebut dengan erat, sementara pasangan Junsu-Park Yoochun yang juga hadir dalam acara tersebut tampak sedang sibuk berbincang masalah bisnis dengan Yunho yang berdiri tak jauh dari keduanya.

“Maaf aku baru bisa datang sekarang, aku baru menyelesaikan tour Asia ku, hyung dan Yoochun juga baru bisa mengambil cuti dari kantornya”

Ucap Junsu setelah selesai berpelukan dengan Jaejoong.

“Yoochun mengambil cuti dari kantor? Bukankah ia bossnya?”

Junsu memang terkenal sebagai seorang penyanyi solo di Korea Selatan sementara Park Yoochun-kekasihnya adalah seorang pebisnis sukses yang bergerak di bidang IT.

“Yah…hyung kan tau sendiri Yoochun seperti apa, tak jauh beda dari Yunho hyung. Workaholic!”

Jaejoong terkikik melihat ekspresi lucu dari sepupu dekatnya itu.

“Mana si kembar? Aku ingin melihat mereka!”

Seru Junsu semangat.

“Mereka sedang tidur. Aku sengaja menyuruh beberapa babysitter dan bodyguard untuk menjaga mereka di kamar. Sebenarnya ini ide eomma…kau tau sendiri aku dan Yunho tak mungkin tega menolak permintaannya”

Junsu hanya mengangguk paham. Ny. Jung alias eomma yang disebutkan Jaejoong barusan adalah ibu mertua dari Jaejoong dan ibu kandung dari Yunho.

“Aku ingin melihat mereka sebentaar saja hyung, boleh ya? Ya?”

Mohon Junsu sambil memelas. Jaejoong yang tak tega melihat ekspresi memelas itupun akhirnya menyanggupi permintaan sang sepupu. Ia permisi sebentar dengan Yunho sebelum berjalan membawa Junsu ke salah satu kamar yang sudah mereka pesan di hotel mewah tersebut. The Surrey Hotel, Upper East Side NYC.

Kedua pria yang terlihat terlalu bersemangat itu tak sadar akan tatapan seorang wanita tua berbaju hitam dan bandana hitam yang berdiri tak jauh dari mereka.

“A man does not make his destiny; accept it or denies it”

Bisiknya sambil membunyikan sebuah lonceng kecil yang berada di antara jari-jari keriput tersebut. Matanya tak lepas dari kedua orang pria yang sekarang sudah berada di depan lift hotel. Langkah pelannya mengikuti tiap langkah panjang dari dua orang yang ada di depannya tersebut.

Criing…criing…criing…

.

.

.

“Huwaaa…lihatlah kedua tangan mungil ini!” Seru Junsu antusias saat melihat keponakan kembarnya. Saat ini Jaejoong dan Junsu sudah berada di dalam suite room yang sengaja dipesan Yunho untuk kedua anaknya. Jaejoong menatap kebahagiaan Junsu dari samping tempat tidur bayi yang dibawanya dari rumah untuk kedua putra kesayangannya tersebut. Jaejoong sengaja menyuruh pelayan, babysitter serta bodyguard yang ditugaskan menjaga kedua bayinya untuk keluar sebentar dari kamar, demi privasinya dan Junsu.

“Mereka lucu sekali hyung! Yang mana yang Kyuhyun dan yang mana yang Changmin?”

Tanya Junsu sambil bermain-main dengan jari-jari mungil milik si kembar. Yunho juga senang sekali melakukan hal itu.

“Yang kulitnya putih itu Kyuhyunnie sedangkan yang berkulit lebih gelap itu Changminnie”

Jawab Jaejoong sambil memperhatikan bayinya yang ternyata telah bangun dari tidurnya. Memang kedua bayinya tersebut masing-masing mirip dengan dirinya dan Yunho. Kyuhyun lebih mirip dengan Jaejoong sementara Changmin mirip dengan Yunho.

“Haah…aku jadi ingin segera punya anak juga”

Ucap Junsu, tangannya sedikit menggelitiki dagu Kyuhyun sementara Changmin yang melihat saudara kembarnya diganggu malah mencoba menggapai-gapai tangan Junsu tersebut. Bahkan walaupun masih berumur sebulan lebih beberapa minggu Jaejoong bisa melihat interaksi keduanya yang sangat akur. Jika Kyuhyun tertidur maka Changmin juga akan tertidur, mereka seperti ingin melakukan semua hal bersama-sama. Sedikit merepotkan memang, apalagi kalau keduanya sedang sama-sama lapar dan ingin minum susu. Tetapi Jaejoong selalu menikmati melihat pertumbuhan kedua putranya.

“Kau dan Yoochun sudah lebih lama bersama daripada aku dan Yunho, suruh tuan Park itu melamarmu!”

Ejek Jaejoong, Junsu hanya mendengus pelan sebagai balasannya. Jaejoong tahu alasan Yoochun yang tak juga melamar Junsu padahal mereka sudah bersama selama tujuh tahun, Yoochun takut dengan yang namanya pernikahan, perceraian kedua orang tuanya saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu benar-benar menjadi trauma untuk Yoochun hingga sekarang.

Criing…criing…criing…

Tiba-tiba jendela di kamar tersebut membuka dengan lebar dan angin kencang masuk memenuhi ruangan, menerbangkan banyak barang-barang hingga jatuh berserakan ke lantai. Dengan refleks Jaejoong langsung menarik kedua bayinya kedalam gendongan posessifnya, melindungi tubuh-tubuh mungil itu dari angin yang sangat kuat tersebut.

Perlahan-lahan angin kencang yang seperti puting beliung itu berhenti, Jaejoong membuka matanya perlahan dan nyaris menjerit saat melihat seorang nenek berbaju hitam sudah berdiri di depannya dengan sebuah lonceng kecil yang ia pegang diantara jari-jari keriputnya tersebut.

Insting Jaejoong mengatakan ada yang tak beres dan ia semakin memeluk kedua bayinya yang sekarang mulai menangis.

Mata Jaejoong mencari-cari sosok Junsu dan menemukan sang sepupu sudah tergolek di lantai.

“Junsu!”

Jerit Jaejoong.

“Kalian yang diluar!”

Jaejoong mencoba memanggil para pelayan yang tadi ia suruh menunggu di luar kamar tetapi panggilannya tersebut tak dijawab sama sekali. Jaejoong sedikit berlari kearah pintu, satu tangannya mencoba membuka pintu kayu tersebut tetapi pintu itu terkunci, padahal Jaejoong tak menguncinya tadi.

“Tolong! Tolong!”

Panik Jaejoong sambil menggedor-gedor pintu kamar.

Criing…criing…criing

Suara lonceng itu seketika membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri. Ia berbalik perlahan dan mendapati perempuan tua itu masih berdiri di tempatnya tadi sambil menatap dirinya.

“Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu padamu, anak muda…kau tak perlu panik”

Ucapnya tenang. Suaranya membuat tubuh Jaejoong seketika membatu di tempatnya. Seperti sihir.

“Kau…siapa…?”

Mendengar pertanyaan lirih itu sang perempuan tua tersenyum. Ia berjalan mendekati Jaejoong yang masih tak bisa menggerakkan tubuhnya. Di dalam gendongannya si kembar sudah menangis menjerit-jerit.

“Aku hanya seorang gypsi tua yang terpanggil untuk membantumu, anak muda”

Gypsi tersebut berdiri sejauh tiga meter dari tempat Jaejoong berdiri. Satu tangannya tiba-tiba terangkat, menunjuk kearah kedua bayi yang ada di dalam gendongan Jaejoong.

“Karma telah jatuh pada kedua anakmu”

Jaejoong menatap kedua bayi mungilnya dengan penuh kebingungan. Karma? Apa yang gypsi tua itu maksudkan?

“Dosa di masa lalu yang menghantui takdir kedua putra malangmu…semua ini tak perlu terjadi bila kau tak melahirkan bayi kembar tetapi nyatanya takdir memang tak bisa dicurangi”

“Apa maksudmu? Karma apa?”

Gypsi tua itu tersenyum misterius. Ia menggeleng pelan.

“Aku tidak dalam posisi yang tepat untuk mengatakannya padamu, anak muda”

Jaejoong semakin bingung, emosinya mulai tersulut karena gypsi tua di depannya malah memutar-mutar kata-katanya.

“Jangan bermain-main denganku! Siapa kau dan apa maksudmu menggangguku dan keluargaku!?”

“Aku kemari untuk memberitahukanmu sesuatu…hal besar yang akan menghancurkan keluarga dan orang-orang yang akan kau cintai bila tak segera di tangani”

Jaejoong terdiam. Kehancuran? Keluarga dan orang-orang yang ia cintai?

“Kedua bayi kembarmu itu tak boleh bersama. Mereka bahkan tak boleh saling bertemu”

“Apa?”

“Takdir dan akhir yang buruk menunggu mereka berdua jika mereka tak dipisahkan. Kehancuran keluarga Jung bahkan kematian tuan dan nyonya besar Jung, berkaitan dengan takdir keduanya. Jika kau ingin melindungi orang-orang yang kau sayangi, pisahkan mereka…jangan biarkan mereka bertemu, atau kau akan merasakan karma atas dosa dari pendahulu-pendahulumu tersebut”

Jaejoong terkesiap mendengar penuturan gypsi tua di depannya. Tubuhnya melemas seketika, ia menoleh kebawah, menatap kedua bayi mungilnya yang sudah berhenti menangis, mata-mata indah itu menatap balik kearahnya seakan-akan berkata ‘aku tak ingin dipisahkan, eomma’.

“Kau perempuan gila! Atas dasar apa aku harus mempercayai kata-katamu!”

Seru Jaejoong marah.

“Aku hanya memberitahukan masa depan yang kulihat…terserah apabila kau ingin mempercayaiku atau tidak. Semua ada di tanganmu…kehancuran keluarga dan kematian mereka…ada di tanganmu”

Criing…criing…criing

Kembali angin kuat mengisi kamar tersebut, Jaejoong refleks menutup matanya erat sambil tangannya memeluk kedua bayi dalam gendongannya dengan lebih erat lagi, dan saat angin tersebut berhenti berputar-putar dalam ruangan itu sang gypsi tua telah lenyap.

Junsu bergerak pelan, mencoba membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya sudah tergolek dilantai dengan keadaan sekitarnya yang kacau dan berantakan.

“Hyung!”

Seru Junsu saat melihat sang kakak sepupu tengah terduduk di depan pintu kamar sambil memeluk kedua bayinya dengan erat. Sayup-sayup Junsu bisa mendengar suara isakan lolos dari bibir hyung kesayangannya itu. Tangan Jaejoong bergerak untuk semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh-tubuh mungil yang ada dalam dekapannya. Tubuhnya bergetar hebat.

‘Apa yang harus eomma lakukan?’

.

.

.

.

.

to be continue?^^

21 thoughts on “Us Against The World – Interlude

  1. Aarrrhhh! You’re back…!
    Setelah sekian lama langka FF ChangKyu akhirnya nemu lagi🙂
    BabyMin posesifnya udah kelihatan tuh, hehe. Roman2nya ini bakalan incest ya? Dari summary ChangKyu (sepertinya) bakalan di pisah. OK lah, saya tunggu chapter dan konflik2 kedepannya, author-nim. Update asap ya. Fighting!🙂

  2. author-nim….lama gak buka wp-mu ternyata kamu buat cerita baru…ikut bca ya..
    aku selalu suka ff-mu…konfliknya ini bagus!>< sering sih sebenarnya nemu ff yg changkyu itu anak kembar, but dg cerita ini fresh lah ya….mohon segera dilanjutkan…pengen tau nanti rajutan konfliknya gimana…
    cuma pengen ngingetin, ff yg lain mohon sgra update ya… SEMANGAT!
    gomawo…^^

  3. saengggg!!!! huwaah iseng2 maen ke wp mu tnyata ada ff baru huhuhuhu
    ini incest changkyu kan???
    huwaaah gk mau tau pokoknya harus dilanjuuuttttttt

  4. Wah wah wah bkal incest ya ini jdix?? Pnasaran dosa d masa lalux apa ampe changkyu kena karma,, ditunggu lnjutanx..!😄

  5. ceritanya seruu ^^
    kayanya ini incest ya? makanya mereka ga boleh bersama..
    kira kira mereka dpisahinnya bakal gimana?
    kyaaaa penasaraann ><
    update soon author-nim🙂
    hwaiting!

  6. ini bkal trus dipost dsni atau di ffn?
    Soalx bgus bgt T.T ini changkyu couple sm yunjae couple. Favorit bgt dehh
    update please

  7. ikut baca chigu……………
    Ga seneng aku ama gypsy itu seenaknya mutusin nasib orang, yapi penasaran juga, lanjut chingu………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s