Muerte-03

Muerte~

-a Changkyu fanfiction-

Pairing  : Changkyu (Changmin x Kyuhyun)

Genre : Angst

Rate : M (for suicidal theme)

Disclaimer : I only own the plot and idea, ChangKyu belongs to each other

Warning : Character death

A/N : If you are against this pairing please refrain yourself from reading my fic. Constructive critics are welcome but do not bash the character or the author^^

=======================================================

Sakit…

Sungguh sangat sakit…

Kenapa aku harus jatuh cinta padamu? Kau hanya bisa memberiku perasaan sedih dan sakit…

Bahkan goresan yang kulukis di lenganku ini tak lagi terasa sakit saat kau dengan entengnya memproklamirkan dirinya sebagai yeojachingu mu. Aku memang tersenyum tapi apa kau tidak sadar betapa suaraku bergetar menahan tangis? Apa kau tidak sadar kalau aku meremas erat-erat jemariku sampai membiru demi menahan jeritan tak rela keluar dari mulutku? Yah…kau tak akan sadar karena saat ini matamu hanya tertuju pada gadismu itu.

Si bodoh yang tak peka dan si tolol yang malang. Bahkan cerita kita terdengar seperti sebuah judul opera sabun.

Shim Changmin, berapa lama lagi aku bisa bertahan?

 

Kyuhyun mencintainya.

Cho Kyuhyun mencintai Shim Changmin.

Kata-kata tersebut terus menerus mengisi pikiran Changmin sejak Yunho menyatakan hal itu padanya tadi siang. Awalnya Changmin menolak untuk mempercayai spekulasi Yunho tetapi semuanya menjadi jelas saat Changmin akhirnya menemukan namanya tertulis didalam jurnal Kyuhyun bersamaan dengan pernyataan cinta sang sahabat.

 

“Aku bahkan tak ingat kita pernah berciuman”

Changmin mengacak rambutnya untuk yang kesekian kalinya hari ini, persetan dengan tatanan rambutnya yang akan rusak ataupun penampilannya yang akan terlihat berantakan,  pria bertubuh kelewat tinggi itu tak lagi perduli dengan apa yang akan orang katakan tentangnya.

Memang sejak kematian Kyuhyun semua orang selalu mengatakan kalau Changmin berubah semakin gelap. Bahkan sang yeojachingu…astaga! Changmin bahkan melupakan sang pacar karena sibuk memikirkan Kyuhyun.

Buru-buru Changmin mengeluarkan smartphonenya, memang dia memiliki dua telefon genggam. Satu untuk urusan kerja dan yang satu lagi adalah untuk urusan pribadi. Dimana telefon genggam yang ia pakai untuk urusan pribadinya itu telah ia abaikan selama hampir dua minggu, tepatnya sejak kematian Kyuhyun.

Changmin merogoh tasnya dan menemukan charger disana, dengan tergesa-gesa Changmin langsung mencolokkan kabel charger tersebut ke smartphonenya. Setelah menunggu selama beberapa menit akhirnya sang handphone yang sampai kehabisan baterai karena diabaikan berhari-hari menyala juga. Begitu sang smartphone malang hidup berpuluh sms langsung masuk bertubi-tubi. Kesemuanya dari seseorang yang sejak enam bulan ini menyandang predikat sebagai yeojachingu Shim Changmin.

Sang anggota tertinggi di TVXQ itu segera membaca satu per satu sms yang semuanya berisi pertanyaan tentang keadaannya dan dimana ia berada saat itu. Tentu saja Changmin merasa bersalah karena telah mengabaikan sang kekasih tetapi entah kenapa selain perasaan bersalah tidak lagi ada perasaan lain yang hinggap di hatinya saat membaca semua pesan bernada khawatir tersebut, padahal biasanya Changmin akan merasa senang saat membaca pesan penuh perhatian seperti itu.

Setelah berfikir cukup lama Changmin akhirnya memutuskan untuk menelefon sang yeojachingu. Hanya perlu beberapa detik sampai telefonnya diangkat oleh wanita yang lagi-lagi berusia lebih tua darinya.

 

“Minnie? Kau kemana saja? Kenapa tak memberi kabar? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu”

Suara lembut dan keibuan milik sang yeojachingu menyapa pendengaran Changmin begitu telefonnya diangkat. Changmin tersenyum sedikit, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi sang kekasih saat ini.

 

“Maafkan aku Yeorim-ah…aku sangat sibuk beberapa hari ini”

Jawaban Changmin tidak sepenuhnya bohong, ia memang sibuk beberapa hari ini tetapi bukan karena pekerjaan melainkan sibuk memikirkan kematian sang sahabat yang baru ia ketahui ternyata mencintai dirinya. Kembali pikiran Changmin mendadak kosong saat mengingat isi jurnal Kyuhyun yang baru dibacanya saat di perjalanan pulang tadi. Disana tertulis “-lukisan yang kulukis di lenganku ini tak lagi terasa sakit…” Changmin membelalakkan matanya, ingatannya kembali ke enam bulan lalu lebih tepatnya beberapa minggu setelah dirinya resmi berpacaran dengan Han Yeorim-yeojachingunya yang sekarang.

 

Flashback

“Haaah…panas sekali!”

Omel Changmin, tangannya tak henti-henti mengipasi tubuhnya sendiri dengan segala macam benda yang ada di sekitarnya, kali ini skrip drama musical Kyuhyun yang jadi sasaran. Saat ini memang keduanya tengah berada di dalam dorm Super Junior, panasnya cuaca membuat pendingin di ruangan itu seakan-akan tak berfungsi.

 

“Kau terlalu berlebihan, Min-ah…”

Balas Kyuhyun yang baru keluar dari dalam kamarnya. Changmin meneliti sosok Kyuhyun yang tampak mengenakan baju berbahan sweater lengan panjang berwarna merah maroon dengan bawahan skinny jeans warna hitam.

“Astaga Kyu! Kau mau keluar dengan pakaian seperti itu? Aku saja yang melihatmu jadi ikutan gerah”

Tak habis pikir dengan pilihan busana sang sahabat. Changmin sendiri saat itu hanya mengenakan kaus tipis berkerah v warna putih dengan bawahan celana jeans pendek selutut, kostum musim panas andalannya.

“Aku tidak kepanasan kok”

Elak Kyuhyun, magnae yang bertubuh lebih kecil itu menarik naskah miliknya yang dengan seenak hati dijadikan Changmin sebagai kipas dan memasukkannya kedalam postman bagnya.

“Kau bisa kena heat stroke kalau berpakaian seperti ini! Ayo ganti”

Potong Changmin sambil menarik lengan Kyuhyun.

“Tidak mau! Lepaskan!”

Elak Kyuhyun masih ngotot tidak mau mengganti bajunya. Ia sendiri berusaha menarik lengannya yang digenggam Changmin.

“Cho Kyuhyun!”

Suara Changmin mulai meninggi. Bukan tanpa alasan Changmin memaksa Kyuhyun mengganti bajunya. Kyuhyun pernah hampir pingsan karena kepanasan sebelumnya jadi wajar kan kalau Changmin merasa khawatir saat ini, di luar cuaca sangat panas dan Kyuhyun memakai baju begitu tebal.

Tanpa sengaja Changmin memegang kulit pergelangan tangan Kyuhyun karena lengan baju Kyuhyun naik akibat kegiatan tarik menarik mereka. Changmin bisa merasakan ada goresan-goresan kasar disana seperti bekas sayatan tetapi sebelum Changmin bisa melihat apa yang sebenarnya terpegang olehnya barusan Kyuhyun buru-buru menarik lengannya dan menarik lengan bajunya sampai menutupi separuh telapak tangannya. Kyuhyun langsung memalingkan mukanya, berusaha menghindari tatapan penuh selidik Changmin.

“Kyu…lenganmu…”

Kata-kata Changmin terpotong saat tiba-tiba manager Kyuhyun masuk kedalam ruangan tersebut dan memaksa Kyuhyun untuk bergegas pergi untuk latihan drama musikalnya. Changmin sendiri lupa untuk bertanya lebih lanjut kepada Kyuhyun karena tiba-tiba saja ia mendapat ajakan kencan dari sang yeojachingu. Dan masalah apa sebenarnya sayatan di lengan Kyuhyun terlupakan begitu saja.

Flashback end

“Minnie? Kau dengar aku?”

Changmin tersadar dari ingatannya tentang luka di lengan Kyuhyun yang mungkin saja Kyuhyun lakukan karena depresi. Depresi dengan perasaan cintanya pada Changmin.

“Changmin? Apa kau masih disana?

 

Suara Yeorim yang terdengar dari speaker handphone Changmin membuat Changmin tersadar kalau ia baru saja mengacuhkan sang yeojachingu-lagi

“Maafkan aku…sepertinya aku sedikit kelelahan”

 

Jawab Changmin, berniat ingin menyudahi sambungan telefon tersebut. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba kacau dan ia hanya ingin sendiri saat ini. Merenung dan mengingat-ingat apa saja yang pernah ia dan Kyuhyun lalui, apa saja yang pernah tanpa sengaja ia lakukan dan mungkin melukai perasaan Kyuhyun, apa saja yang bisa menjadi bukti baginya kalau Kyuhyun memang mencintai dirinya.

“Baiklah, sebaiknya kau istirahat saja. Saranghae”

 

“Ne”

 

Changmin memutus telefon itu bahkan tanpa menjawab kata ‘saranghae’ dari sang yeojachingu. Padahal biasanya kalau ia bertelefon dengan Kyuhyun kata-kata cinta itu keluar begitu saja dari mulutnya di setiap akhir telefon mereka.

.

.

.

Apa kau tau? Setiap namanya keluar dari mulutmu nafasku rasanya terhenti, paru-paruku menolak untuk bekerja setiap kali kau menceritakan betapa kau sangat menyayanginya, rasanya sungguh sangat sakit tapi aku hanya bisa tersenyum dan menanggapi semua cerita bahagiamu dengan senyum palsu.

Setiap kali hatiku sakit karena ceritamu tentangnya hanya inilah satu-satunya cara agar aku bisa sedikit bernafas lega. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk sedikit meringankan rasa berat yang mengisi seluruh dadaku dan membuatku sulit bernafas. Perasaan ringan yang kudapat setiap aku berhasil melukai tubuhku sendiri…rasanya semua bebanku hilang saat perlahan-lahan dunia yang ada di pandanganku memburam ketika tubuhku mulai kekurangan darah.

Aku tak bisa berhenti lagi

Ini sudah seperti candu bagiku

Tetapi aku takut, Changmin-ah…aku takut kalau-kalau goresan yang kusayat terlalu dalam. Aku takut saat darah itu keluar begitu banyaknya dari luka yang sengaja kubuat…Aku takut karena kalau itu terjadi aku tak bisa lagi melihatmu

Tapi aku tak bisa berhenti…apa yang harus aku lakukan sekarang Changmin-ah? Tolong aku…

.

.

.

Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin…Changmin

Aku benar-benar mencintaimu sampai-sampai rasanya sesakit ini…

Sampai kapan aku bisa bertahan dengan perasaanku padamu yang tak akan pernah tersampaikan?

.

.

.

Aku melakukannya lagi malam ini

Gathering Kyu-Line dan kau yang selalu berakhir mabuk dalam setiap acara gathering kita. Aku sebagai sahabatmu bertugas membawamu pulang setiap kali kau tak sanggup untuk menyetir sendiri dan hari ini aku membawamu pulang ke apartemenmu.

Saat itu aku hanya ingin membantumu merebahkan diri diatas ranjangmu tetapi kau malah menarik tubuhku dan kita berakhir dalam keadaan aku menindihmu diatas ranjang. Jujur saja, jantungku seperti berhenti berdetak saat itu dan wajahku memanas karena malu. Tidak bisa diungkapkan betapa bahagianya diriku bisa berada dalam keadaan seintim itu denganmu. Semuanya semakin indah ketika kau membuka matamu perlahan dan tersenyum padaku sambil menarik tubuhku lebih erat kedalam pelukanmu. Kau membisikkan namaku dengan begitu lembut di telingaku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibirmu lagi.

Maaf karena aku telah mencuri ciumanmu saat kau tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol. Aku memang pengecut yang hanya bisa memanfaatkan kesempatan yang ada. Aku menggunakan kedok sahabat di depanmu padahal saat kau tertidur aku melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan seorang sahabat. Aku memang kotor Changmin-ah…rasanya semakin aku mencintaimu semakin aku membenci diriku sendiri.

Tetapi bisakah aku sedikit berharap kalau kau juga memiliki sedikit perasaan yang sama denganku? Karena walaupun dalam keadaan mabuk aku bisa mendengar kau mengucapkan kata cinta itu dengan jelas sebelum akhirnya kau jatuh tertidur

.

.

.

Changmin membelalak kaget membaca tulisan Kyuhyun tersebut. Ia pernah menyatakan cinta pada Kyuhyun dalam keadaan tidak sadar?

Lagi-lagi dada Changmin bergemuruh karena luapan emosi yang begitu bercampur-aduk memenuhi ruang sempit di dadanya. Antara kaget, bingung, menyesal semuanya bercampur menjadi satu.

Disatu sisi Changmin menyesal karena ia tidak bisa mengingat apapun sementara di sisi lain ada perasaan bahagia terselip disana karena ia walaupun tanpa sadar pernah berada dalam keadaan seintim itu dengan Kyuhyun. Bahagia? Tunggu…kenapa ia harus merasa bahagia Karena pernah memiliki Kyuhyun? Changmin sendiri tidak sanggup mendiskripsikan perasaan apa yang dirasakannya saat ini. Bukankah seharusnya ia merasa jijik saat sahabat yang berjenis kelamin sama dengannya mencium bahkan menyentuhnya seperti itu? Tetapi alih-alih merasa jijik Changmin malah merasa lengkap, ia merasa begitu dicintai oleh Kyuhyun dan itu memenuhi perasaannya dengan kehangatan.

Kyuhyunnya…Cho Kyuhyun miliknya. Apakah wajar kalau Changmin memiliki perasaan possesif itu selama ini? Changmin selalu menganggap Kyuhyun sebagai miliknya, hanya dirinya yang boleh menyentuh Kyuhyun, hanya dirinya yang boleh sedekat itu dengan Kyuhyun. Selama ini Changmin terlalu terfokus dengan bagaimana pandangan orang nantinya dan bagaimana hubungan cinta yang seharusnya hanya terjadi pada sepasang pria dan wanita. Changmin terlalu jauh berfikir sampai-sampai ia tak menyadari perasaannya sendiri, perasaan orang yang selalu berada di dekatnya.

Untuk apa Changmin mencari cinta yang tak pernah benar-benar membuat hidupnya lengkap kalau ternyata cinta itu sendiri selalu berada disisinya. Malam ini. Di dalam kamar apartemen pribadinya. Detik ini juga. Changmin baru menyadari apa itu cinta.

Setetes air mata lolos begitu saja dari kedua mata bening dan bulat milik Shim Changmin. Dadanya terasa sesak. Bukan salah Kyuhyun jika ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Changmin memiliki andil yang besar dalam keputusan Kyuhyun melakukan itu semua. Dirinyalah pendosa terbesar dalam hal ini. Kalau saja ia bisa dengan cepat menyadari semuanya sebelum terlambat.

Tangis yang perlahan berubah menjadi isakan. Changmin sekarang terisak sambil memeluk erat jurnal berwarna biru safir milik sang sahabat. Semuanya sudah terlambat. Kyuhyunnya tak akan kembali. Tuhan sudah memberinya waktu sangat panjang untuk bisa menyadari baik perasaannya sendiri maupun perasaan Kyuhyun tetapi Changmin malah menghabiskan waktunya tersebut untuk menyakiti orang yang justru paling disayanginya.

Changmin menutup matanya. Berharap semua ini hanya mimpi dan begitu ia membuka matanya keesokan pagi Kyuhyun akan kembali berada disisinya. Jika itu terjadi Changmin berjanji tidak akan menyiakan sang sahabat untuk yang kedua kalinya.

 

“Kyu…kembalilah…saranghae…”

.

.

.

Flashback

Hari ini seperti biasa Kyuhyun datang berkunjung ke apartemen pribadi milik Changmin. Sejak Changmin memutuskan untuk tinggal terpisah dari Yunho dan tidak lagi satu dorm dengan sang leader memang Kyuhyun sudah seperti penghuni kedua apartemen milik Changmin yang jaraknya hanya beda se blok dengan apartemen yang dulu ia tinggali berdua dengan Yunho.

 

“Kau mau minum Kyu?”

Tanya Changmin menawari Kyuhyun-yang saat ini sedang terfokus dengan ps3 di depannya-sekaleng bir. Kyuhyun tampak berfikir sebentar sebelum akhirnya mengambil kaleng dingin tersebut dari tangan Changmin. Kyuhyun memang bukanlah penggemar bir, ia lebih menyukai wine ketimbang minuman alkohol kesukaan Changmin itu.

“Sepertinya hari ini hanya kita berdua yang free…Jonghyun sedang sibuk dengan tour CNBlue sementara Minho sedang sibuk dengan drama barunya”

Changmin meneguk birnya. Kyuhyun sendiri sudah berhenti bermain dan memilih untuk duduk di sebelah Changmin.

“Pada akhirnya memang selalu hanya kita berdua kan?”

 

Jawab Kyuhyun. Changmin cuma bisa menunjukkan cengiran khasnya pada Kyuhyun. Kembali ia menyesap birnya.

“Yunho hyung apakah tinggal bersama Jaejoong hyung sekarang?”

 

Tanya Kyuhyun tiba-tiba. Changmin sedikit berjengit mendengar nama orang lain keluar dari mulut Kyuhyun. Kebiasaan Changmin saat ada nama orang yang tak biasa disebut Kyuhyun keluar dari mulutnya.

“Tidak kok, Yunho hyung tinggal sendiri tapi memang ia lebih sering tinggal di rumah Jaejoong hyung”

 

Jawab Changmin singkat. Sedikit bingung dengan pertanyaan Kyuhyun. Setahunya Kyuhyun tidak terlalu perduli dengan hubungan Yunho hyung dan Jaejoong hyung kenapa sekarang sang sahabat malah menanyakan itu padanya. Ok, Changmin cemburu kah?

“Mereka sangat serasi”

 

Bisik Kyuhyun pelan namun masih terdengar di telinga Changmin. Entah kenapa nada suara Kyuhyun terkesan sedikit muram dan itu membuat kepala Changmin mulai panas.

“Kenapa? Jangan bilang kau menyukai Yunho hyung?”

 

Kyuhyun langsung menoleh mendengar tuduhan Changmin barusan dan dengan cepat sebuah kepalan sudah mendarat ke puncak kepala Changmin.

“Yah! Kenapa memukulku?!”

 

Changmin bersungut-sungut sambil mengelus puncak kepalanya yang telah berhasil dijitak oleh Kyuhyun.

“Biar kepalamu berfungsi kembali dengan benar! Mana mungkin aku menyukai Yunho hyung”

Omel  Kyuhyun. Sungguh ia tak pernah habis pikir dengan tingkah polah sahabatnya yang satu ini. Setiap ia berbicara tentang pria lain Changmin pasti akan bertingkah seperti saat ini-seperti orang yang sedang cemburu tetapi ia juga selalu menyuruh Kyuhyun untuk mencari pacar wanita. Sebenarnya apa yang dimaui Changmin?

Sesaat hening diantara keduanya, Changmin masih sibuk mengelus kepalanya dan Kyuhyun tampak sangat serius menatap kaleng bir di tangannya.

“Kyu…”

“Min…”

 

Keduanya berucap bersamaan. Kyuhyun tersenyum-senyuman yang paling disukai Changmin- dan Changmin menyuruh Kyuhyun untuk berbicara duluan.

“Kau dulu…”

Kyuhyun tampak berfikir cukup lama sebelum kemudian ia buka suara.

“Aku tau kau adalah seorang pria normal tetapi apakah kau akan beralih menjadi gay apabila suatu saat kau menemukan seorang pria yang benar-benar kau cintai? Seperti Yunho hyung dan Jaejoong hyung”

 

Changmin terdiam sesaat. Sungguh ia tak pernah mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Selama hidupnya Changmin selalu menganggap dirinya normal dan ia termasuk kedalam orang-orang yang menentang homoseksual walaupun ia sendiri tidak terganggu oleh hubungan Yunho dan Jaejoong yang sudah ia anggap seperti keluarganya.

Selama ini Changmin selalu menjadi orang yang berfikiran lebih dewasa daripada umurnya. Saat orang-orang dibutakan dengan cinta ia memilih untuk menggunakan logikanya saat jatuh cinta. Apakah orang tersebut sesuai untuknya? Apakah orang tuanya akan menyetujui? Apakah orang tersebut bisa mendukung kariernya? Apakah orang-orang akan menerima hubungannya jika suatu saat ia harus mengumumkannya di depan umum? Changmin selalu memikirkan semuanya masak-masak sebelum memulai suatu hubungan. Karena itu juga ia merasa kalau dirinya tak akan mungkin menjadi seorang gay karena sudah jelas menjadi gay akan merusak masa depannya-itu yang ia pikirkan.

“Bukankah itu abnormal? Aku tidak membenci kaum gay karena kau tau sendiri Yunho hyung dan Jaejoong hyung adalah sepasang kekasih dan aku tak membenci keduanya tetapi aku masih merasa hubungan sesama jenis itu tak seharusnya terjadi. Bukankah itu menyalahi kodrat?”

 

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, ia bahkan tidak menyadari perubahan air muka Kyuhyun yang duduk di sampingnya. Ia tidak menyadari kalau Kyuhyun mati-matian menahan tangis disampingnya.

“A-aku baru ingat ada janji dengan Eunhyuk, aku pulang duluan”

Seru Kyuhyun cepat, ia langsung menyambar tasnya dan berlari keluar dari apartemen Changmin sebelum Changmin sempat menanyakan apapun.

Flashback end

.

.

.

Aku sungguh tak sanggup lagi

Apa sebegitu hinanya aku dimatamu, Changmin-ah?

“Bukankah itu abnormal? Aku tidak membenci kaum gay karena kau tau sendiri Yunho hyung dan Jaejoong hyung adalah sepasang kekasih dan aku tak membenci keduanya tetapi aku masih merasa hubungan sesama jenis itu tak seharusnya terjadi. Bukankah itu menyalahi kodrat?”

Kata-katamu itu sudah sangat jelas menunjukkan bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya.

Aku memang abnormal

Aku memang telah menyalahi kodrat yang dikehendaki tuhan

Aku memang seorang pendosa

Tetapi rasanya benar-benar sakit saat kata-kata itu keluar langsung dari mulutmu. Aku seperti dihujani berjuta batu kerikil dari neraka yang membakar seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung jemari kakiku.

Bunuh saja aku. Daripada harus mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu sebaiknya kau bunuh saja aku terlebih dahulu. Rasanya saat ini lebih menyakitkan daripada mati.

-to be continue-

2 thoughts on “Muerte-03

  1. No coment. Aku hnya akn terus mengikuti cerita fiksi mu, kwan. Ku katakn dg bangga, aku hnya memilih shim changmin sbg satu-satu nya idol. Idol trpilih. No. 1. Dan aku menyukai persahabatan changkyu-yg kurasa memang sangat trlalu dekat. *Salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s